Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Paus Perbaharui Komisi Penyelidikan Pelecehan Seksual

Ahad 18 February 2018 03:33 WIB

Red: Ratna Puspita

Paus Fransiskus

Paus Fransiskus

Foto: EPA/Alesasandro Di Meo
Mandat komisi, yaitu melindungi anak-anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan.

REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN — Paus Fransiskus memperbarui sebuah komisi yang menangani kasus pelecehan seksual pastor, Sabtu (17/2) waktu setempat. Paus Fransiskus juga menetapkan seorang kardinal Amerika Serikat sebagai pemimpin komisi, di tengah janji Vatikan untuk membuat suara para korban lebih terdengar.

Pembaruan komisi dan penetapan Kardinal Sean O'Malley dari Boston sebagai pemimpin komisi itu dilakukan saat paus berurusan dengan skandal pelecehan di Cile. Skandal Cile telah menciptakan salah satu krisis citra terbesar kepausannya, yang akan menandai ulang tahun kelimanya pada bulan depan.

Amanat tiga tahun pertama komisi tersebut berakhir pada Desember lalu dan masa depannya tidak pasti. Periode pertama komisi itu dirusak dengan dua pengunduran diri tokoh tingkat tinggi, yaitu Marie Collins dari Irlandia dan Peter Saunders dari Inggris.

Keduanya adalah korban pelecehan seksual pendeta saat mereka masih muda. Keduanya mengundurkan diri karena frustrasi atas kurangnya perubahan dan kerja sama oleh para pejabat tinggi Vatikan.

Sebuah pernyataan Vatikan mengatakan, korban pelecehan seksual ada di antara anggota namun terserah pada mereka untuk memutuskan apakah ingin mengungkapkan identitasnya selain kepada komisi internasional yang beranggotakan 16 orang itu. Komisi terdiri dari sembilan anggota baru dan tujuh orang lama.

Rencana dikabarkan berada pada tahap lanjutan untuk menciptakan sebuah kelompok beranggotakan para korban pelecehan seksual. Kelompok ini dikenal sebagai International Survivor Advisory Panel (ISAP) untuk memberikan konsultasi mengenai "pencegahan pelecehan dari sudut pandang para penyintas."

Melindungi Anak-Anak

photo

Uskup Kota Osorno, Juan Barros (tengah), ketika melakukan penyambutan Paus Fransiskus di Lobito Campos, Ilquique, Cile, 18 Januari 2018. Barros dicurigiai membantu menutupi pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur yang dilakukan beberapa tahun yang lalu oleh pastor Fernando Karadima. (EPA-EFE / ESTEBAN GARAY)

Komisi itu beranggotakan akademisi dan psikolog, pastor dan biarawati. Mandat komisi itu, yakni mempromosikan prakarsa praktik dan program pendidikan terbaik untuk melindungi anak-anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan di institusi Katolik setempat di seluruh dunia.

Ahli komisi itu berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, Ethiopia, India, Italia, Tonga, Jerman, Brazil, Polandia, Afrika Selatan, Filipina, dan Zambia. Sepuluh orang bukan merupakan pemimpin iman, dan delapan adalah wanita, termasuk tiga biarawati.

Paus Fransiskus mendapat kecaman karena pernyataannya bulan lalu di Cile. Dia awalnya mengatakan tuduhan terhadap uskup Cile adalah "fitnah”. Dia juga mengatakan kepada wartawan bahwa Vatikan tidak menerima bukti konkret menyangkut tuduhan itu.

Namun beberapa hari kemudian, dia menunjuk penyidik pelecehan seksual yang paling berpengalaman untuk menyelidiki tuduhan bahwa Uskup Juan Barros telah menutupi kejahatan terhadap anak di bawah umur. Penyelidik tersebut, Uskup Agung Charles Scicluna dari Malta, memulai tugasnya di New York pada Sabtu saat dia bertemu dengan Juan Carlos Cruz. 

Cruz mengatakan bahwa dia dilecehkan secara seksual saat dia masih remaja di Cile oleh seorang pastor bernama Fernando Karadima. Dalam penyelidikan yang dijalankan Vatikan pada 2011, Karadima dinyatakan bersalah telah melecehkan remaja laki-laki selama bertahun-tahun. 

Karadima membantah tuduhan tersebut. Barros juga telah membantah tuduhan bahwa dia menyaksikan Karadima melakukan pelecehan tersebut.

Sumber : Antara/Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Senegal Menang 2-1 Atas Polandia

Rabu , 20 June 2018, 00:22 WIB