Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Ini Alasan Donald Trump Batalkan Kunjungan ke Inggris

Jumat 12 January 2018 15:24 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Teguh Firmansyah

Donald Trump

Donald Trump

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Presiden Donald Trump telah membatalkan rencana kunjungannya ke Inggris pada Februari. Kunjungan tersebut sedianya dilakukan untuk acara pembukaan kedutaan AS yang baru di London yang bernilai Rp 13 triliun ($ 1 miliar).

Namun alih-alih datang, Trump justru mengkritik keputusan pemindahan oleh presiden terdahulu Barack Obama.   Dalam sebuah cuitannya Trump menyatakan bahwa dia bukan penggemar berat dari kedutaan baru tersebut yang dipindah dari Mayfair ke London Selatan. Ia juga mengatakan bahwa hal tersebut adalah kesepakatan yang buruk. 

"Situs di Grosvenor Square telah dan ditukarkan dengan 'peanuts'," tulis Trump. Peanuts merupakan idiom yang diartikan tak bernilai.

 

Downing Street, kantor Theresa, menolak untuk berkomentar mengenai pembatalan perjalanan itu. Pemindahan Kedutaan dikonfirmasi pada  Oktober 2008 ketika Presiden George W Bush masih berada di Gedung Putih.

Namun Trump menyalahkan pemerintahan Barack Obama karena menjual kemungkinan kedutaan terbaik di London.   Ia menilai gedung baru di Vauxhall, London Selatan berada di lokasi yang  tidak strategis. "Ingin aku memotong pita, tidak!" tulis Trump dalam cuitannya yang menolak keras untuk datang pada acara peresmian.

Upacara peresmian rencananya akan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson. BBC sendiri mengungkapkan kemungkinan Trump sedang mempertimbangkan pilihannya untuk melakukan kunjungan kenegaraan  akhir tahun nanti. Trump berencana untuk makan siang bersama Ratu di Istana Buckingham.

"Namun hingga saat ini tidak ada tanggal pasti untuk kunjungan kenegaraan yang pernah disepakati itu. Juga dari pihak Gedung Putih belum ada yang mencatat rincian perjalanan itu," ujar koresponden diplomatik BBC, James Landale.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA