Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

WannaCry Serang 200 Ribu Komputer di Dunia

Senin 15 May 2017 19:01 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Pengguna komputer disandera oleh peretas yang melancarkan virus ransomware dan meminta uang tebusan.

Pengguna komputer disandera oleh peretas yang melancarkan virus ransomware dan meminta uang tebusan.

Foto: abc

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Setidaknya 200 ribu komputer di seluruh dunia terkena serangan siber yang disebut menggunakan virus WannaCry. Peneliti malware sebelumnya telah berupaya menghentikan serangan sepanjang pekan lalu.

Namun, jumlah itu diperkirakan terus bertambah dengan banyaknya perusahaan yang mungkin menyadari komputer mereka telah terinfeksi virus. Bahkan, ada dua variasi baru dari malware yang saat ini terdeteksi dan menyebar ke perangkat komputer mereka.

Malware dari virus ini disebut menyebar cepat seperti cacing. Virus menginfeksi dari satu komputer ke mesin maupun sistem melalui koneksi intenet. Pada akhirnya, WannaCry membuat hampir seluruh file di dalam perangkat pengguna terkunci.

Setelah itu, penyerang akan meminta uang tebusan sebanyak 300 hingga 600 dolar AS untuk membuka akses file pengguna. Virus ini memanfaatkan celah keamanan dalam sistem operasi Windows buatan Microsoft.

"Saya khawatir karena jumlah komputer yang terkena WannaCry mungkin akan terus bertambah dan mungkin membuat ribuan pihak terkena kerugian," ujar direktur badan investigasi Eropa Europol, dilansir NBC News, Senin (15/5).

Microsoft telah merilis program pelindung untuk menangkal virus tersebut, termasuk pemberitahuan Windows jenis apa saja yang rentan terserang WannaCry. Setidaknya ada delapan seri Windows yang disebut rawan.

Sementara itu, media Pemerintah Cina Xinhua sebelumnya melaporkan sebanyak lebih dari 29 ribu institusi di negara itu terkena serangan siber, termasuk juga perusahaan energi terbesar di negara itu, PetroChina.

Namun, perusahaan teknologi Cina Qihoo 360 mengatakan tingkat infeksi WannaCry melambat secara signifikan mulai Senin (15/5). Sebagian besar sistem komputer di komputer yang terinfeksi juga telah dipulihkan.

Baca: Geramnya Rusia Terhadap Serangan Siber Global

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA