Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Empat Masjid Terbakar di AS Sejak Awal Tahun

Senin 06 Mar 2017 10:16 WIB

Rep: Marniati/ Red: Angga Indrawan

Islamofobia.

Islamofobia.

Foto: Unrforliberty.com

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Sejak awal tahun 2017, telah ada empat masjid yang terbakar di Amerika Serikat. Pada tanggal 7 Januari lalu , Islamic Center Lake Travis di Austin, yang sedang dalam perbaikan terbakar. Seminggu kemudian, 14 Januari, Islamic Center Eastside di Bellevue, Washington juga terbakar.

Dua minggu setelah itu, pada 27 Januari, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang melarang imigran dari tujuh negara mayoritas Muslim, kebakaran menghancurkan Islamic Center of Victoria di Texas.

Kemudian, akhir Februari lalu, kobaran kecil terjadi di depan pintu masuk Masjid Daarus Salaam dekat Tampa. Pihak berwenang telah memutuskan bahwa tiga dari empat masjid yang terbakar disebabkan oleh  pembakaran karena insiden kejahatan kebencian. Seorang pejabat di Travis mengatakan penyelidikan penyebab kebakaran di Islamic Center Lake Travis masih tetap dilakukan.

"Kami belum pernah melihat empat masjid dibakar dalam waktu tujuh minggu. Itu bagian dari serangkaian serangan dramatis pada umat Islam,” ujar seorang rekan senior di Pusat Hukum Mark Potok seperti dilansir buzzfeed (1/3).

Kebakaran masjid terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kejahatan kebencian terhadap kelompok agama minoritas. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah ancaman bom juga terjadi ke pusat-pusat komunitas Yahudi dan sekolah di seluruh negeri serta  kuburan di pemakaman Yahudi telah dirusak.  

Selain itu, insiden kejahatan kebencian yang menargetkan tempat ibadah juga terus terjadi. Ahad lalu, seseorang melemparkan batu ke jendela masjid Masjid Abu Bakar di Denver. Menurut Potok, kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ditambah lagi terdapat peningkatan insiden kejahatan kebencian yang terjadi seluruh negeri saat pemilu dan pelantikan Donald Trump. Ia mengaku telah tinggal 18 tahun di AS dan belum pernah menyaksikan peningkatan insiden kejahaan kebencian ini.

Direktur Departemen Pemantauan dan Pemerangan Islamofobia di Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Corey Saylor juga menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan insiden pembakaran masjid yang terjadi sejak awal tahun memang sangat tidak biasa. Dalam kondisi normal, insiden yang menargetkan masjid biasanya terjadi satu bulan sekali dan bukan insiden pembakaran.

"Aku belum melihat tingkat kekerasan seperti ini sejak saya mulai berada di organisasi ini pada tahun 2009,” katanya.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES