Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Duterte Minta Cina Kirim Kapal Patroli Perangi Abu Sayyaf

Rabu 01 Feb 2017 11:15 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Foto: AP Photo / Bullit Marquez

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Presiden Filipina rodrigo duterte pada Selasa (1/2) mengatakan ia telah meminta Cina membantu memerangi kelompok militan abu sayyaf dengan mengirimkan kapal patroli di perairan selatan yang marak pembajakan.

Berbicara kepada jenderal yang baru dipromosikan, Duterte mengatakan ia telah meminta bantuan Cina di perairan berbahaya di selatan untuk memeriksa kegiatan Abu Sayyaf, sebuah kelompok pemberontak yang melakukan pembajakan dan kegiatan penculikan demi tebusan.

Isu pembajakan meluas di bagian perairan Filipina, memaksa pemilik kapal mengalihkan kapal melalui perairan lainnya. Hal ini meningkatkan biaya dan waktu pengiriman.

Duterte mengatakan pembajakan di Laut Sulu antara Malaysia timur dan Filipina selatan akan meningkat seperti di Somalia. Sehingga meningkatkan biaya asuransi bagi perusahaan dan meningkatkan harga barang dan jasa konsumen.

"Kami akan senang jika mereka memiliki kehadiran mereka di sana, hanya untuk patroli. Cina bisa mengirim kapal penjaga pantai, tidak harus kapal perang abu-abu. Di Selat Malaka dan di sini di Laut Sulu tetap menjadi masalah besar. Selat Malaka, antara pantai barat Malaysia dan pulau Sumatra sudah lebih dari satu tahun ini juga telah diganggu oleh bajak laut," kata Duterte, Selasa (1/2).

Diuterte tidak mengatakan apakah Cina telah menanggapi permintaannya tersebut.

Filipina, Malaysia dan Indonesia memiliki kesepakatan melakukan patroli dan mengatasi kelompok Abu Sayyaf di Sulu dan Laut Sulawesi. Setelah mereka menculik awak kapal tunda Indonesia dan Malaysia dan kapal dagang Korea Selatan dan Vietnam.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana pekan lalu mengatakan kerja sama mungkin diperluas untuk mencakup Brunei dan Singapura. Amerika Serikat juga telah menyatakan keprihatinan tentang masalah keamanan di sana. AS juga telah mengadakan latihan dengan Malaysia dan Filipina tahun lalu. Lorenzana menyebutkan militer telah meningkatkan operasi di darat dengan tujuan mengalahkan Abu Sayyaf, dengan target waktu enam bulan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA