Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Ribuan Warga AS Lakukan Aksi Protes Kebijakan Imigrasi Trump

Senin 30 Jan 2017 10:41 WIB

Rep: Marniati/ Red: Bayu Hermawan

Unjuk rasa menolak kebijakan Trump yang melarang pendatang muslim ke Amerika di Boston, Massachusetts.

Unjuk rasa menolak kebijakan Trump yang melarang pendatang muslim ke Amerika di Boston, Massachusetts.

Foto: Brian Snyder/Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Ribuan warga Amerika Serikat (AS) melakukan aksi protes di beberapa negara bagian, terkait kebijakan imigrasi yang diambil oleh Presiden Donald Trump. Sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan tersebut, ribuan warga turun ke jalan pada Ahad (29/1) waktu setempat.

Dilansir dari motherjones.com, ribuan warga AS melakukan aksi di Boston, tepatnya di Copley Square, jalanan Washington DC, Omaha Nebraska dan San Fransisco. Mereka membawa poster sebagai bentuk dukungan terhadap muslim. Aksi ini juga menjadi viral di media sosial.

Para demonstran terdiri dari warga AS dengan berbagai macam latar belakang etnis, warna kulit, keyakinan dan usia. Mereka meneriakkan slogan tentang larangan Trump terhadap muslim adalah sebuah penghinaan terhadap cita-cita mereka dan negara. Perintah eksekutif Trump ini juga telah dikritik oleh para ahli keamanan nasional dan organisasi hak-hak sipil.

Diberitakan sebelumnya, Donald Trump menandatangani perintah eksekutif mengenai pembatasan pengungsi dari negara yang dihuni mayoritas Muslim. Setidaknya ada tujuh negara mayoritas Muslim yang terdampak kebijakan kontroversial Trump.

Trump telah mengatur mengenai pembatasan masuknya warga dari Suriah ke AS selama 90 hari. Tak hanya itu, enam negara yang dihuni mayoritas Muslim lainnya yaitu Somalia, Irak, Iran, Libya, Sudan, dan Yaman juga bernasib serupa.

Trump beralasan kebijakan tersebut akan membuat Amerika Serikat terbebas dari teroris Islam radikal. "Kami hanya ingin mengakui siapa saja yang ke negara kami mendukung negara kami dan mencintai warga AS," katanya seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Sabtu (28/1).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA