Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Trump Ancam Hapus Kebijakan Satu Cina

Senin 12 Dec 2016 15:34 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ani Nursalikah

Donald Trump

Donald Trump

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Kebijakan 'satu Cina' Amerika Serikat terancam berakhir di tangan Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump. Pada Ahad (11/12), ia mengatakan AS tidak perlu terpaku pada kebijakan tersebut.

"Saya mengerti sepenuhnya soal kebijakan satu Cina, tapi saya tidak tahu kenapa kita harus terikat padanya kecuali kita membuat kesepakatan soal hal lain, seperti perdagangan," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News Sunday.

Pernyataan ini membawa pertanyaan soal posisi AS selama empat dekade yang menjunjung tinggi kebijakan itu. AS pertama kali memulainya pada 1979 saat memutus hubungan formal dengan Taiwan untuk menghormati pendirian Cina.

Dalam wawancara, Trump menyebut Cina tidak bekerja sama dengan AS dalam menangani beberapa hal, seperti masalah mata uang, Korea Utara dan ketegangan di Laut Cina Selatan. "Kita sangat babak belur oleh Cina dengan devaluasinya, saat mereka menerapkan pajak besar tapi tidak," kata Trump.

Para ekonom, termasuk di Dana Moneter Internasional (IMF) melihat itu sebagai upaya Cina untuk menopang nilai yuan selama tahun lalu. Itu adalah bukti Beijing tidak lagi menjaga mata uangnya secara artifisial rendah untuk membuat ekspor Cina murah.

Trump juga mengatakan tidak ingin didikte oleh Cina. Beberapa waktu lalu, ia berbincang dengan pemimpin Taiwan, Tsai Ing-wen. Ia menjadi presiden AS pertama yang bicara langsung dengan pemimpin Taiwan dalam beberapa dekade terakhir.

"Itu percakapan yang menyenangkan. Pendek. Dan kenapa sejumlah negara mengatakan saya tidak boleh menjawab telepon?" kata Trump.

Ia sempat menyebut larangan-larangan itu tidak terhormat. Kantor berita Cina geram dengan pernyataan Trump. Editorial Global Times memperingatkan kebijakan satu Cina tidak bisa diperdagangkan. Mereka menyebut tindakan Trump sangat kekanak-kanakan dan butuh belajar soal diplomasi.

"Cina harus melawan Trump setelah beberapa penolakan kasar dan serius darinya, sehingga ia mengerti Cina dan negara lain tidak bisa dirusak," tertulis sebagai respons dalam Global Times. Sementara, pemerintah Cina belum mengeluarkan pernyataan.

Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan tidak akan berkomentar soal isu ini. Mereka menilai pembicaraan Tsai dan Trump di telepon adalah trik murahan dari Taiwan. Cina lebih menekankan pentingnya hubungan bilateral AS-Cina.

Meski demikian, sulit bagi Cina untuk tidak menganggapnya serius. Kebijakan satu Cina telah mendarah daging, mendasar dan sangat sensitif. Beijing menganggap Taiwan adalah bagian dari wilayah.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA