Saturday, 27 Syawwal 1443 / 28 May 2022

Pertama Kali Dalam Sejarah, Musisi Raih Nobel Sastra 2016

Kamis 13 Oct 2016 23:45 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Reiny Dwinanda

Bob Dylan merupakan musisi pertama yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra.

Bob Dylan merupakan musisi pertama yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra.

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Penyanyi dan penulis lirik lagu asal Amerika Serikat (AS), Bob Dylan (75 tahun), mendapat penghargaan Nobel di bidang kesusastraan untuk tahun ini. Pria yang bernama asli Robert Allen Zimmerman itu merupakan salah satu pemusik genre rock termashyur di dunia internasional.

Akademi Swedia selaku pemberi penghargaan Nobel menyatakan Bob Dylan merupakan sosok “yang telah menciptakan ekspresi-ekspresi puitis baru di dalam tradisi lagu Amerika.”

Terpilihnya Dylan menjadi kejutan tersendiri dalam sejarah Nobel. Mayoritas orang tidak menyangka panitia Nobel juga menyoroti karya-karya musisi atau penulis lirik lagu.

Nobel di bidang kesusastraan biasanya diberikan kepada sosok yang telah menciptakan karya besar (kanon) di genre-genre prosa atau puisi. Lirik lagu baru menjadi sorotan panitia Nobel di tahun 2016 ini.

Bob Dylan lebih masyhur sebagai pemusik, bukan sastrawan. Apakah ini berarti Akademi Swedia menilai musik sebagai salah satu bagian dari sastra? “Waktu terus berubah,” ujar Sara Danius sebagai salah satu dari 18 anggota permanen panitia Nobel kesusastraan. Frasa itu meminjam salah satu judul lagu karya Bob Dylan, “The Times They are Changing” (1964).

Sara cenderung mengelompokkan musisi sebagai sastrawan lisan. Bahkan, ia membandingkan Bob Dylan dengan Homer dan Sappho, penyair kanon klasik sastra lisan dunia. Dia menyebut Bob Dylan sebagai seorang penyair besar di tradisi kesusastraan berbahasa Inggris.

Dengan begitu, apakah Nobel tahun ini menandakan perluasan batas-batas kesusastraan, dengan menyoroti pula sastra lisan? “Selama 54 tahun hingga kini, dia (Bob Dylan) selalu ke sana, dan selalu memperbarui diri secara konstan, memperbarui diri, menciptakan sebuah identitas baru,” sambung Sara Danius, seperti dikutip the New York Times, Kamis (13/10).

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA