Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

ini Alasan Warga AS Takut Ebola

Ahad 12 Oct 2014 12:48 WIB

Red: Agung Sasongko

Dr. Joel Montgomery (left), team leader for the US Centers for Disease Control and Prevention Ebola Response Team in Liberia. (photo is released on Sept. 16, 2014)

Dr. Joel Montgomery (left), team leader for the US Centers for Disease Control and Prevention Ebola Response Team in Liberia. (photo is released on Sept. 16, 2014)

Foto: Reuters/Athalia Christie/CDC

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Meski pihak kesehatan telah meyakinkan bahwa Ebola tidak mungkin menyebar di Amerika Serikat, kekhawatiran tentang penyakit ini berkembang sejak diumumkannya kasus pertama di Amerika Serikat pekan lalu.

Mengapa orang Amerika menjadi takut terhadap Ebola? Sebuah survei oleh Pew Research Center baru-baru ini mendapati sekitar 11 persen orang Amerika mengatakan "sangat khawatir" bila mereka atau anggota keluarga akan terjangkit virus Ebola. Sementara 21 persen lain mengaku agak khawatir terjangkit virus ini.

Survei ini diadakan pada 2--5 Oktober, setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) mengumumkan seorang pria di Dallas, Texas, menjadi orang pertama yang didiagnosis terjangkit Ebola di Amerika.  Bulan ini juga, CDC menerima lebih dari 800 telfon per hari dari orang-orang yang khawatir terjangkit Ebola. 

"Sebelum kasus Dallas, jumlahnya sekitar 50,"kata Direktur CDC, Dr. Tom Frieden seperti dilansir livejournalscience.com, Ahad (12/10).

Di Dallas, para orang tua memulangkan anak-anak mereka dari sekolah, meski CDC telah menekankan bahwa Ebola hanya menyebar karena kontak dengan cairan tubuh dari seseorang yang menunjukkan gejala penyakit.

Meski kebanyakan orang Amerika menjalani keseharian mereka tanpa rasa takut terhadap Ebola--survei mendapati mayoritas responden mengatakan mereka tidak terlalu khawatir atau tidak khawatir sama sekali tentang virus itu--tetap saja ada kecemasan di luar sana terkait resiko disproposional, kata David Ropeik, seorang konsultan dalam resiko persepsi dan penulis "How Risky Is It, Really? Why Our Fears Don't Always Match the Facts" (McGraw-Hill, 2010).

Kekhawatiran terhadap virus Ebola disebabkan manusia biasanya terbatas dalam kemampuan mereka untuk membuat keputusan rasional tentang resiko.  "Kita jarang memiliki waktu atau kecerdasan atau informasi mentah untuk membuat penilaian informasi lengkap tentang apa pun," kata Ropeik. "Hidup membutuhkan pilihan yang lebih cepat daripada itu."

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB