Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Cegah Penyebaran Ebola, PBB Usul Ada Unit Khusus

Kamis 09 Oct 2014 13:51 WIB

Red: Julkifli Marbun

Seorang pria mendapatkan penjelasan sekaligus selebaran tentang ebola dari sebuah LSM di Conakry, Guinea.

Seorang pria mendapatkan penjelasan sekaligus selebaran tentang ebola dari sebuah LSM di Conakry, Guinea.

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- wabah Ebola terburuk dalam catatan sejarah yang sedang terjadi sekarang ini dapat diatasi jika negara-negara di dunia bekerja sama dengan cepat membangun unit-unit pengobatan darurat di beberapa negara Afrika Barat yang paling parah terkena dampak virus mematikan Ebola, kata Koordinator Badan Tanggap Ebola PBB pada Kamis.

"Jika kita dapat mengurangi jumlah orang yang menularkan infeksi Ebola kepada orang lain sekitar 70 persen, maka kejadian luar biasa ini akan berakhir," ujar Dr. David Nabarro, koordinator senior Badan Tanggap Ebola PBB kepada Reuters.

"Dan, sebaliknya, bila orang-orang (yang terinfeksi) dapat terus menularkan virus kepada orang lain ketika mereka sakit, maka wabah akan terus dan terus tumbuh pada tingkat seperti sekarang ini," lanjutnya.

Guinea, Liberia dan Sierra Leone merupakan wilayah-wilayah yang paling terkena dampak penyakit mematikan itu, dan beberapa kasus Ebola telah dilaporkan terjadi di Senegal dan Nigeria.

Pada Rabu (8/10), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Ebola telah menewaskan 3.879 orang dari sebanyak 8.033 orang yang terkonfirmasi, kemungkinan dan diduga mengidap virus, yang diidentifikasi di Guinea sejak Maret lalu.

Oleh karena itu, Dr. Nabarro mengapresiasi Amerika Serikat, Inggris, Uni Afrika, dan pihak lainnya yang telah mengirimkan petugas kesehatan dan personil militer untuk membentuk pusat dan staf pengobatan di daerah yang terkena wabah Ebola.

Ia pun mendesak semua negara lain di dunia untuk turut memberikan kontribusi apa pun yang bisa membantu usaha pencegahan penyebaran virus Ebola itu.

Dia juga memuji Republik Demokratik Kongo dan Uganda yang telah menyediakan dokter-dokter ahli dan perawat.

"Mereka (Kongo dan Uganda) telah memiliki pengalaman berurusan dengan Ebola di dalam negara mereka sendiri dan pengalaman itu sangat berharga," katanya. Wabah Ebola di Afrika Barat diyakini terpisah dari kasus Ebola yang telah dilaporkan terjadi di Kongo.

Sistem kesehatan di negara-negara Afrika Barat yang terkena dampak virus Ebola tidak memiliki kapasitas untuk menangani epidemi virus tersebut. Pusat pengobatan pun selalu penuh dan petugas kesehatan terancam risiko infeksi.

Ebola memerlukan waktu selama tiga minggu sebelum korban menunjukkan gejala penyakit, di mana waktu tiga minggu itu menjadi masa penularan. Ebola, yang dapat menyebabkan demam, muntah dan diare, ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh, seperti darah atau air liur.

Dr. Nabarro, yang menjadi koordinator PBB untuk respons internasional terhadap wabah flu burung dan manusia, mengatakan skala wabah Ebola yang terjadi saat ini dapat meningkat dua kali lipat dalam tiga sampai empat minggu.

"Maka perawatan yang berkualitas dalam ruang terisolasi guna memungkinkan pasien memiliki kesempatan yang baik untuk pemulihan merupakan persyaratan utama dalam mengatasi wabah ini. Untuk melakukan itu, kami perlu mendapatkan orang-orang yang terampil dalam memberikan perawatan," ungkapnya.

PBB bulan lalu mendirikan misi pertamanya yang dirancang khusus untuk memerangi krisis kesehatan masyarakat di Afrika, yakni Misi PBB Berbasis di Ghana untuk Tanggap Darurat Ebola (UNMEER).

"Kami tentu akan memenangi pertempuran ini. Pertanyaannya adalah kapan ... dan apakah bisa kita meminimalkan jumlah orang yang akan kehilangan nyawanya, atau meminimalkan kerusakan ekonomi di negara-negara yang terkena dampak selama wabah virus ini terjadi," kata Dr.Nabarro.

Ia pun menyampaikan kesedihannya atas kematian orang pertama di Amerika Serikat yang didiagnosis terinfeksi Ebola, yaitu Thomas Eric Duncan, yang terbang ke Dallas pada akhir September setelah mengalami kontak dengan wanita yang terinfeksi Ebola dan kemudian meninggal.

Dia mengatakan, kasus Duncan menunjukkan betapa bahayanya virus Ebola, yang diklasifikasikan sebagai bencana biologis tingkat empat dan salah satu penyakit paling mematikan dengan belum tersedianya vaksin atau pengobatan yang tepat.

"Bahkan, jika anda punya sistem kesehatan yang sangat berkualitas tinggi, kadang-kadang belum tentu bisa menyelamatkan orang-orang yang terinfeksi Ebola," kata Nabarro.

Sementara itu, Pemerintah Amerika Serikat pada Rabu memerintahkan pelaksanaan pemeriksaan tambahan terhadap para penumpang di lima bandara utama AS, yang menerima kedatangan penumpang dari negara-negara Afrika Barat.

Nabarro mengatakan ia mendukung gagasan skrining penumpang untuk mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi atau mungkin telah terjangkit virus Ebola. Namun, ia berpendapat larangan perjalanan atau mengisolasi negara yang terkena dampak virus Ebola bukanlah cara penanganan yang benar.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA