Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Sekitar 25 Anak di California Terserang Virus Mirip Polio

Selasa 25 Feb 2014 12:45 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Virus of Polio (illustration)

Virus of Polio (illustration)

Foto: natural.tv

REPUBLIKA.CO.ID, SAN FRANSISCO-- Penyakit langka dan misterius mirip polio menyerang lebih dari 25 anak-anak di California, beberapa di antaranya mengalami kelumpuhan anggota badan, dan para pakar kesehatan tengah berjuang mengidentifikasi penyebabnya, kata peneliti medis pada Senin.

Sejak 2012, antara 20 hingga 25 anak-anak di California yang tadinya sehat menunjukkan gejala sakit, kemungkinan karena virus menular, kata Akademi Neurologi Amerika dalam sebuah pernyataan, menjelaskan hasil riset dua pakar neurologi California.

Salah satu pasien masih berada dalam kondisi serius namun tidak ada pasien yang meninggal akibat sindrom tersebut, kata peneliti. Pakar neurologi anak dari Universitas Stanford Keith Van Haren mengatakan kasus tersebut bisa mengindikasikan kemungkinan "munculnya sindrom mirip polio yang menular di California," meski pejabat kesehatan federal mengatakan kasus yang muncul terlalu sedikit untuk menyebut penyebaran penyakit itu sebagai ancaman.

Polio yang berhasil diberantas di AS sejak tiga dasawarsa lalu, merupakan virus menular yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen atau membunuh korban dalam hitungan jam sejak infeksi. Vaksin yang dikembangkan pada 1950-an telah memberantas penyakit ini di hampir seluruh wilayah dunia, meski masih ada kawasan endemis di Pakistan, Afghanistan dan Nigeria.

Sebuah studi terhadap lima anak di California yang terinfeksi penyakit misterius itu menemukan bahwa mereka mengalami kelumpuhan mendadak pada satu atau lebih anggota badan, dengan gejala mencapai puncaknya dalam tempo dua hari, demikian hasil riset yang dilakukan Van Haren dan pakar neurologi Universitas San Fransisco Emmanuelle Waubant.

"Meski virus polio telah diberantas di hampir seluruh wilayah dunia, virus-virus lain juga bisa menginfeksi tulang belakang, sehingga menimbulkan gejala seperti polio," kata Van Haren.

Anak-anak divaksin anti-polio

Hasil pemindaian atas tubuh lima anak-anak dalam studi tersebut juga menunjukkan adanya bintik-bintik putih di tulang belakang mereka, mengindikasikan kerusakan yang belum jelas, demikian riset yang disiapkan untuk dirilis pada pertemuan Akademi Neurologi Amerika di Philadelphia pada April. Disamping fakta bahwa penyakit tersebut mirip polio, kelima anak-anak itu sudah mendapatkan vaksin polio sebelm gejala tersebut muncul.

Sementara 15 sampai 20 anak lain yang juga menunjukkan gejala sama tidak dianalisa secara dekat dalam studi tersebut. Namun hasil tes darah dan informasi lain yang dikumpulkan menunjukkan bahwa mereka mengalami kelumpuhan mendadak atau anggota badan menjadi sangat lemah dan kemungkinan kerusakan tulang belakang, kata Waubant. Semua pasien anak tersebut berusia antara dua hingga 16 tahun.

Dua dari lima anak dalam studi tersebut dinyatakan positif terinfeksi enterovirus, yang berkaitan dengan mewabahnya penyakit mirip polio di Asia dan Australia dalam satu dasawarsa terakhir, sementara tiga lainnya tidak terinfeksi, kata Waubant.

Ia mengatakan anak-anak yang terbukti negatif dalam tes tersebut mungkin saja terinfeksi virus itu waktu pengujiannya tidak tepat sehingga virus tidak nampak dalam darah. Hasil tes terhadap lebih banyak anak-anak yang menderita gejala sama masih ditunda, kata Waubant. Ia mengatakan terlalu cepat untuk memastikn bahwa virus tersebut telah menginfeksi sejumlah besar anak-anak.

Peneliti pada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS Dr Jane Seward mengatakan pihaknya mengetahui hasil penelitian itu namun mengatakan bahwa kasusnya masih terlalu sedikit untuk menyatakan adanya ancaman penyebaran penyakit itu di seluruh negara bagian atau seluruh AS.

Departemen Kesehatan Masyarakat California mengatakan akan mengeluarkan pernyataan mengenai penelitian itu serta hasil penyelidikannya terkait laporan kasus pada Senin malam, namun menolak berkomentar mengenai isi pernyataan itu nanti.

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA