Rabu, 21 Zulqaidah 1440 / 24 Juli 2019

Rabu, 21 Zulqaidah 1440 / 24 Juli 2019

Pembicaraan Perdamaian DRC Berlanjut Kendati Ada Pertempuran

Sabtu 02 Nov 2013 22:41 WIB

Red: Julkifli Marbun

Bendera Republik Kongo

Bendera Republik Kongo

Foto: congorepublic

REPUBLIKA.CO.ID, KAMPALA -- Pembicaraan perdamaian antara Pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC) dan gerilyawan M23 berlanjut di Kampala, Uganda, pada Jumat (1/110, meskipun terjadi pertempuran dalam negeri DRC.

Let.Kol. Paddy Ankunda, Juru Bicara bagi Militer Uganda dan pembicaraan tersebut, memberitahu wartawan bahwa semua pihak telah datang ke Ibu Kota Uganda, Kampala, untuk menuntaskan kesepakatan perdamaian.

Ia mengatakan delapan dari 10 masalah yang mengganjal telah disepakati.

"Pembicaraan berlangsung dengan baik dan kedua delegasi berada di ambang penandatanganan kesepakatan bersejarah," kata Ankunda, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu malam.

Menteri Pertahanan Uganda Crispus Kiyonga, Penengah pembicaraan itu, meminta Pemerintah DRC menghentikan pertempuran, kata juru bicara tersebut.

"Tidak masuk akal bagi kami untuk berbicara sementara pertempuran berkecamuk. Pagi ini (Jumat) kami menerima laporan bahwa senjata sudah tak bersuara lagi," katanya.

Ia mengatakan Bertrand Bisimwa, pemimpin kelompok gerilyawan M23, telah ikut dalam pembicaraan itu, bertolak-belakang dengan laporan sebelumnya yang mengatakan Bisimwa telah menyerahkan diri kepada Pemerintah Uganda setelah tentara Pemerintah DRC merebut pangkalan M23 di bagian timur DRC.

Gerakan gerilyawan tersebut didirikan oleh mantan gerilyawan suku Tutsi yang bergabung dengan militer Kongo sejalan dengan kesepakatan perdamaian 2009 tapi memberontak pada April 2012.

Pembicaraan perdamaian yang kadang hidup-kadang mati antara Pemerintah DRC dan M23 macet lagi pekan lalu, setelah Kinshasa menolak untuk mengampuni sebanyak 80 pemimpin gerilyawan.

Militer DRC, yang didukung oleh pasukan khusus PBB, melancarkan serangan terhadap gerilyawan dan telah menguasai kubu M23.

Sebanyak 5.000 orang telah mengungsi ke seberang perbatasan di Uganda sejak awal pekan ini, kata badan pengungsi PBB.

Ankunda mengatakan kebanyakan pengungsi Kongo yang telah menyelamatkan diri dari pertempuran sekarang pulang ke rumah mereka setelah M23 kehilangan pangkalannya.

Ia mengatakanposisi Uganda ialah konflik DRC tak bisa diselesaikan secara militer tapi harus secara politik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA