Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Polisi Korsel Hentikan Penyebaran Selebaran anti-Korut

Ahad 30 Jun 2013 06:58 WIB

Red: Didi Purwadi

Bendera Korea Selatan

Bendera Korea Selatan

Foto: flagscountries.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Polisi Korea Selatan pada Sabtu menghentikan rencana peluncuran selebaran anti-Pyongyang menyusul ancaman pembalasan kekerasan oleh Korea Utara.

Sekelompok pembelot dari Korea Utara dan aktivis hak asasi manusia AS mengatakan mereka akan menggunakan balon-balon diisi gas untuk menjatuhkan 200.000 selebaran yang mengecam Pyongyang di perbatasan yang tegang.

Tetapi, kontingen polisi tak berseragam mencegah para aktivis dari bongkar selebaran dan bahan-bahan lainnya untuk peluncuran dari sebuah truk pickup di Imjingak. Sebuah situs wisata dekat perbatasan.

Pada beberapa jam sebelumnya, militer Korea Utara memperingatkan akan menembak situs peluncuran dan menuduh Selatan sengaja meningkatkan konfrontasi dengan Korea Utara.

Seorang aktivis terkemuka, Park Sang-Hak, ditahan sebentar setelah ia mencoba mengendarai mobil melalui garis polisi untuk sampai ke tempat peluncuran yang direncanakan.

"Saya bertanya-tanya apa yang mereka begitu takuti. Apakah ilegal? Apa yang salah dengan apa yang kita lakukan,'' kata Thor Halvorssen, presiden Yayasan Hak Asasi Manusia (HRF) yang berbasis di New York, kepada wartawan.

"Jika Korea Selatan akan melakukan segalanya karena ancaman dari Korea Utara, maka Korea Selatan adalah sandera. Korea Selatan bukan negara bebas", katanya.

Polisi menghentikan peluncuran serupa pada April dan Mei tahun ini. Polisi menghentikannya setelah aksi protes penduduk lokal yang tinggal di daerah tersebut.

Penduduk setempat menentang tindakan karena Korea Utara telah mengancam untuk menembaki situs yang digunakan untuk meluncurkan selebaran yang sering membawa pesan seperti seruan untuk pemberontakan terhadap rezim komunis.

sumber : Antara/AFP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA