Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Turki Ditolak Masuk Uni Eropa karena Islamofobia?

Rabu 08 Aug 2012 10:05 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: Hafidz Muftisany

Turki dan Uni Eropa

Turki dan Uni Eropa

Foto: changingturkey.com

REPUBLIKA.CO.ID,BRUSSELS--Penolakan Uni Eropa terhadap permohonan keanggotaan Turki dinilai merupakan bentuk usaha menjaga kemurnian peradaban benua biru.  Turki yang notabene kental dengan peradaban Islam tentu tidak masuk hitungan.

Imam Masjid Biru, Metin Balci menilai alasan penolakan Uni Eropa sudah sangat jelas bahwa Turki bukanlah negara Kristen. Namun, sangat disayangkan apabila pakem itu masih dipertahankan.  "Melihat dari pendekatan Uni Eropa kepada Turki, maka kita lihat organisasi ini seperti klub," papar dia seperti dikutip onislam.net, Rabu (8/8).  Balci meyakini oposisi Eropa melihat Turki berdasarkan Islamofobia.

Sebagian besar wilayah Turki berada di benua Asia, namun negara ini dinyatakan menjadi bagian

dari kawasan Uni Eropa pada tahun 1959. Sejak tahun 1999, negara ini telah menjadi kandidat anggota Uni Eropa.  

Uskup Gereja Apostolik Armenia, Hovakim Manukyan mengatakan setiap orang Eropa berpikir benua tempat mereka tinggali adalah benua Kristen. "Warga Eropa tentu khawatir dengan pertumbuhan populasi Muslim di seluruh benua biru akan menjadi kekuatan baru di Eropa," kata dia.

Pemikir Yahudi, Rabbi David Rosen berpendapat masuknya Turki ke Uni Eropa akan melahirkan bentrokan antara peradaban kuno dan modernitas. "Ini antara masa pencerahan yang ditandai dengan ilmu pengetahuan, kebebasan individu dan Hak Asasi Manusia (HAM) dan reaksionar, pihak yang merasa terancam oleh masa pencerahan," kata dia.

Namun. pendapat Rabbi itu ditolak oleh Imam Turki. Sebab, kedua peradaban datang dan bersaing bersamaan.  "Saya percaya Uni Eropa akan memberi putusan sesuai nilai-nilai demokratis. Kami ingin bergabung bukan karena uang atau teknologi, tapi karena kami memiliki sistem demokrasi yang sama," kata dia.

Menurut Imam, umat Islam abad pertengahan memimpin Eropa baik dalam ilmu pengetahuan, hak-hak perempuan dan masalah kebebasan individu.  Masa itu hanya berjarak 100 tahun sebelum bangsa Eropa melalui masa pencerahan. "Saya percaya, umat Islam di masa depan akan memimpin peradaban dunia  sekali lagi," kata dia.

Saat ini, lanjut Balci, umat Islam tengah memasuki masa pencerahan dengan ditandai intergrasi antara budaya yang berbeda. Untuk itu, umat Islam nantinya akan kembali memberikan sumbangsih terhadap perabadan Eropa. "Teknologi Barat telah mengantarkan manusia ke bulan, tapi tidak membawa mereka mengunjungi tetangga yang sakit (krisis ekonomi," pungkasnya

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES