Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Makin Panas, Korsel Tuding Korut Bikin Rudal Nuklir

Senin 19 Maret 2012 13:34 WIB

Red: Endah Hapsari

Korea Utara dan Korea Selatan (ilustrasi)

Korea Utara dan Korea Selatan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL---Korea Selatan menuduh Korea Utara berusaha untuk mengembangkan rudal bersenjata nuklir melalui peluncuran satelit bulan mendatang, setelah Pyongyang menolak seruan internasional untuk membatalkan latihan. "Pemerintah kami mendefinisikan apa yang disebut peluncuran satelit Korea Utara sebagai rencana provokasi serius untuk mengembangkan pengiriman jarak jauh untuk senjata nuklir dengan menggunakan teknologi rudal balistik," kata juru bicara Presiden Park Jeong-Ha.

Korea Utara mengumumkan Jumat akan meluncurkan roket antara 12-16 April untuk menempatkan satelit ke dalam orbit guna tujuan damai.

Amerika Serikat dan negara-negara lain melihat peluncuran itu sebagai kedok untuk uji coba rudal jarak jauh, yang akan melanggar larangan kesepakatan denuklirisasi PBB dengan Washington.

Korea Utara diperkirakan memiliki cukup plutonium untuk sekitar enam sampai delapan senjata nuklir, tetapi tidak jelas apakah pihaknya dapat membangun satu hulu ledak nuklir untuk rudal.

Korea Selatan mengeluarkan kecaman terbaru setelah Presiden Lee Myung-Bak memimpin pertemuan para menteri luar negeri dan keamanan.

Dia mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan Amerika Serikat, Jepang, Cina, Rusia dan Uni Eropa untuk menangani masalah ini selama KTT keamanan nuklir pekan depan di Seoul.

Pada Ahad, Korea Utara menolak imbauan internasional untuk membatalkan peluncuran, yang dilakukan untuk menandai peringatan 100 tahun kelahiran pendiri/presiden Korea Utara Kim Il-Sung.

Kantor berita resmi negara tersebut, KCNA, menyebut kritik-kritik itu "langkah dasar ... untuk mengganggu kedaulatan kita" dan menuduh Amerika Serikat dan Jepang "ruang spionase" untuk memantau negara-negara lain dengan satelit mereka sendiri.

Peluncuran oleh negara miskin tapi bersenjata nuklir itu tampaknya diduga untuk mematikan perjanjian 29 Februari dengan Washington, yang menimbulkan harapan bagi meredanya ketegangan di bawah pemimpin Pyongyang baru, Kim Jong-Un.

Korea Utara setuju untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya, bersama dengan uji coba peluncuran rudal jarak jauh dan tes nuklir, dengan imbalan 240 ribu ton pangan yang sangat dibutuhkan sebagai bantuan AS. Pyongyang menyatakan bahwa peluncuran satelit bukan uji coba rudal.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES