Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

Libya Mulai Perang Saudara, Pendukung Qadafi Serang Tentara

Selasa 24 Jan 2012 16:45 WIB

Rep: Satya Festiani/ Red: Heri Ruslan

Ketua NTC Libya, Mustafa Abdel Jalil, melambaikan tangan kepada pendukungnya usai berpidato di Lapangan Syuhada, Tripoli, setelah kejatuhan Muamar Qadafi.

Ketua NTC Libya, Mustafa Abdel Jalil, melambaikan tangan kepada pendukungnya usai berpidato di Lapangan Syuhada, Tripoli, setelah kejatuhan Muamar Qadafi.

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID,  TRIPOLI –- Libya mulai jatuh ke kancah perang saudara. Para pendukung Qadafi menyerang barak tentara pro-pemerintahan di Bani Walid, 200 km dari Tripoli.  Mereka melambaikan bendera hijau sebagai tindakan melawan pemerintahan baru yang dianggap rapuh. Bendera itu menyimbolkan pemerintahan Qadafi selama 42 tahun. “Mereka telah mengontrol kota. Mereka menyerang kota,” ujar pejuang yang tergabung dengan tentara 28 Mei yang setia terhadap Dewan Transisi Nasional (NTC), Senin (23/1).

Juru bicara pasukan revolusioner di Bani Walid, Mahmoud al-Warfali, mengatakan paling tidak empat pasukannya terbunuh di barat. 150 pejuang Qadafi menyerang jalanan menggunakan granat roket dan AK-47s. “Mereka adalah antek-antek Qadafi yang ingin menguasai kota,” ujar al-Warfali. Mereka telah melakukan itu sebelumnya dan menguasai kantor pemerintah sementara. Namun pemerintah berhasil melawannya.

Warga mengatakan, tujuh orang terbunuh. Sebanyak 20 luka-luka dalam peperangan karena keduanya menggunakan senjata. Pasukan udara Libya mengklaim, pesawat dikirimkan ke Bani Walid. Juru bicara dewan militer di Zawiyah, Ayad Laaroussi, mengatakan, 1.500 pasukan yang ditarik dari Libya barat, disiagakan. “Jika situasi di Bani Walid masih ricuh, kami akan kesana,” ujar Ayad Laaroussi.

Bani Walid adalah salah satu kota terakhir yang menyerah pada pemberontak anti-Qadafi  tahun lalu. Mayoritas penduduk melawan pemerintahan baru. Tindakan yang akan dilakukan pemerintah belum jelas. Mereka hanya dapat memperlihatkan keefektifan pasukannya.

Warga yang namanya tidak disebutkan, mengatakan, kericuhan dimulai ketika anggota tentara 28 Mei menahan pasukan setia Qadafi. Hal itu memicu pendukung lainnya untuk menyerang pangkalan tentara. “Mereka membunuh pria yang berdiri di pintu pangkalan,” ujar dia

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA