Senin, 10 Zulqaidah 1439 / 23 Juli 2018

Senin, 10 Zulqaidah 1439 / 23 Juli 2018

Psikiater: Breivik Gila

Rabu 30 November 2011 16:26 WIB

Red: Djibril Muhammad

Anders Breivik, tersenyum saat berada di dalam mobil polisi

Anders Breivik, tersenyum saat berada di dalam mobil polisi

Foto: Dailyrecord.co.uk

REPUBLIKA.CO.ID, Hasil pemeriksaan psikiater menyebutkan bahwa Anders Behring Breivik telah mengalami gangguan mental atau gila saat melakukan serangan biadab empat bulan silam. Jika benar, maka itu artinya Anders Breivik tidak bisa dipenjara, tapi harus menjalani perawatan mental oleh psikiater di rumah sakit kejiwaan tertutup.

Harian VG, yang terbit di Norwegia, hari Selasa (29/11) mengutip sumber anonim, menyatakan "psikiater yang ditunjuk pengadilan telah menyimpulkan bahwa Anders Behring Breivik telah mengidap sakit jiwa saat dia membunuh 77 orang."

Dua psikiater yang memeriksa Behring Breivik, yakni Synne Serheim dan Torgeir Husby, telah mengirimkan temuan mereka kepada pengadilan distrik Oslo pada Selasa pagi (29/11). Kantor jaksa penuntut dijadwalkan bakal mengumumkan hasil pemeriksaan mental Behring Breivik setebal 240 halaman tersebut.

Menurut VG, para psikiater menyimpulkan bahwa Behring Breivik yang berusia 32 tahun telah menderita psikosis, sebuah keadaan mental yang membimbing keputusannya saat melakukan pembantaian. Laporan itu masih akan diperiksa lagi oleh sebuah komisi medis untuk memastikan bahwa laporan itu telah dibuat dengan standar profesional yang benar.

Pada gilirannya, laporan itu akan disampaikan kepada pengadilan untuk menentukan apakah Behring Breivik dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun biasanya di Norwegia, pengadilan akan mengikuti rekomendasi para ahli.

Pada 22 Juli lalu, Ander Behring Breivik melakukan pembantaian, serangan paling mematikan terjadi di Norwegia dan merupakan yang terburuk sejak Perang Dunia II, yang mengguncang bangsa yang dikenal tenang dan normal.

Behring Breivik melakukan aksinya dengan pertama-tama meledakkan sebuah bom mobil di luar gedung pemerintahan di Oslo. Aksi ini mengakibatkan delapan orang tewas.

Setelah itu, dia pergi ke pulau Utoeya yang berjarak sekitar 40 kilometer baratlaut ibukota Oslo. Di sana, dia menyamar sebagai polisi dan menghabiskan waktu sekitar hampir satu setengah jam menembaki 69 orang, sebagian besar dari mereka adalah remaja, hingga tewas dengan cara yang sangat terencana.

Sumber : www.dw-world.de
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES