Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Walah...Buku Seks 'Klub Istri Patuh' Bilang Wanita Hanya Penuhi 10 Persen Keinginan Suami

Jumat 14 Oct 2011 10:09 WIB

Red: Siwi Tri Puji B

Keluarga poligami

Keluarga poligami

Foto: Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KUALALUMPUR - Hanya beberapa bulan setelah menganjurkan anggotanya untuk melayani suami mereka lebih baik dari pelacur, Klub Istri Patuh Malaysia kembali membuat heboh dengan penerbitkan buku panduan seks Islami.

Dalam kata pengantar buku tersebut mengatakan studi menunjukkan wanita hanya memberi suami mereka 10 persen dari apa yang diinginkan pria dari tubuhnya. Buku ini berisi rincian seks eksplisit, dan satu bab khusus membahas bagaimana seks menjadi sebuah ibadah.

Buku itu mengatakan seks dimaksudkan untuk membuat kehidupan baru. ''Anda (Allah) telah mengatakan bahwa semua perbuatan adalah halal, murni, indah, dan seperti doa (antara suami dan istri),'' tulis buku  itu.

Buku saku setebal 115 halaman ini menuai kemarahan banyak Muslim dan non-Muslim. Dalam salah satu halamannya disebut, seorang pria Muslim bisa berhubungan seks dengan semua istrinya pada saat yang sama.

Dalam tradisi Islam yang ketat, seorang pria dapat memiliki hingga empat istri jika ia dapat berbuat adil.

Menanggapi buku ini, grup bernama “We do not want sexist nonsense from Global Ikhwan Sdn Bhd” yang didirikan oleh Matthew Ong menyebut klub yang dimotori Global Ikhwan Sdn Bhd hanya menjadikan wanita sebagai objek seksual. Mereka meminta Kementerian Wanita, keluarga, dan Pembangunan Komunitas, Datuk Seri Shahrizat Abdul Jalil untuk melakukan intervensi.

Klub memicu protes dari kelompok-kelompok perempuan dan otoritas agama Islam ketika didirikan pada bulan Juni tahun lalu. Mereka  mengklaim memiliki ribuan anggota. Klub ini disebut-sebut sebagai salah satu penganjur poligami.

Menteri Malaysia untuk Pengembangan Perempuan, Keluarga dan Masyarakat, Shahrizat Abdul Jalil, meminta para pejabat pemerintah untuk memantau klub ini. terutama untuk memastikan tidak akan membuat 'berantakan; pikiran generasi muda Malaysia. Tapi Shahrizat mengatakan pemerintah tidak bisa membatasi kegiatan klub, dengan dalih Malaysia adalah negara demokratis.

Sumber : smh.com.au
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA