Senin, 21 Syawwal 1440 / 24 Juni 2019

Senin, 21 Syawwal 1440 / 24 Juni 2019

Bentrokan Kembali Pecah Saat Protes Rompi Kuning di Paris

Ahad 06 Jan 2019 10:01 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Pengunjuk rasa rompi kuning.

Pengunjuk rasa rompi kuning.

Foto: EPA-EFE/CAROLINE BLUMBERG
Pengunjuk rasa Rompi Kuning kembali melanjutkan aksinya pada Sabtu (5/1).

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Para pengunjuk rasa dengan sebutan rompi kuning masih menggelar aksi memprotes pemerintahan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Sabtu (5/1) waktu setempat. Mereka membakar sepeda motor dan barikade polisi di Boulevard Saint Germain, Paris.

Awalnya, aksi protes berjalan damai, namun pada sore hari para pengunjuk rasa mulai memberontak dan melemparkan peledak ke polisi anti-huru-hara yang menghalangi jembatan di atas sungai Seine. Petugas kepolisian kemudian menembakkan gas air mata untuk mencegah pengunjuk rasa menyeberangi sungai untuk mencapai Majelis Nasional. Satu restoran perahu sungai dibakar dan seorang polisi terluka ketika ditabrak oleh sepeda yang dilemparkan dari jalan di atas tepi sungai.

photo

Aksi unjuk rasa rompi kuning di Kota Paris, untuk memprotes kenaikan harga dan reformasi ekonomi.

Saat malam tiba, petugas membubarkan sejumlah rompi kuning yang berkumpul di Avenue des Champs-Elysees Paris. Gambar-gambar yang disiarkan televisi menunjukkan, para pemrotes membakar sebuah mobil di pinggir jalan. 

Pihak berwenang menyalahkan kekerasan terburuk dalam beberapa pekan terakhir pada kaum anarkis, anti-kapitalis, dan kelompok ekstrem sebagai gerakan rompi kuning. Pendemo rompi kuning ingin menunjukkan momentum aksi keras kali ini setelah melemah selama liburan akhir tahun. Dalam dua bulan, mereka mulai memblokir jalan-jalan di seluruh Prancis dan menduduki jalan tol dan melakukan protes keras di Paris.

Pemerintah Macron pekan ini mengeraskan pendiriannya, dengan memberi tanda pada para pengunjuk rasa yang berusaha menggulingkan pemerintah.

Kerusuhan tersebut dipicu oleh kemarahan, khususnya di kalangan pekerja bergaji rendah. Mereka memprotes kebijakan Macron dinilai hanya menguntungkan orang kaya semata. 

"Mereka tidak punya hak untuk meninggalkan kita dalam masalah seperti ini," kata pemrotes Francois Cordier. 

"Kami sudah muak harus membayar sepanjang waktu, kami sudah cukup dengan perbudakan ini, kami harus dapat hidup dengan gaji kami," kata Cordier.

Juru bicara pemerintah Benjamin Griveaux melarikan diri dari kantornya melalui pintu belakang setelah sejumlah kecil pemrotes masuk ke kompleks dan menghancurkan kendaraan. Menteri Dalam Negeri Prancis Christopher Castaner mengatakan, sekitar 50 ribu orang telah melakukan protes di kota-kota nasional, termasuk Bordeaux, Toulouse, Rouen, dan Marseille. Namun, jumlah pemrotes lebih tinggi dari pekan lalu.

Protes muncul dalam 18 bulan masa kerja Presiden Macron dan upayanya untuk membentuk kembali ekonomi. Demi meredakan pemrotes, bulan lalu Macron menjanjikan pemotongan pajak bagi para pensiunan, kenaikan upah bagi pekerja, dan penghapusan kenaikan pajak bahan bakar. Macron mengajukan dana pada Departemen Keuangan sebesar 10 miliar euro (11 miliar dolar AS).

Dalam pidato Malam Tahun Baru, Macron bersumpah untuk terus melanjutkan agenda reformasinya. "Kita tidak bisa bekerja lebih sedikit, menghasilkan lebih banyak, memotong pajak, dan meningkatkan pengeluaran," ujar Macron.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA