Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Konferensi Iklim PBB akan Batasi Kenaikan Suhu Dunia

Senin 17 Dec 2018 10:39 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Esthi Maharani

Ilustrasi Dampak Global Warming

Ilustrasi Dampak Global Warming

Konsensus kerangka kerja itu bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata dunia

REPUBLIKA.CO.ID, KATOWICE - Sekitar 200 negara anggota PBB telah menyetujui aturan baru untuk melaksanakan kesepakatan iklim global dalam 24th Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (COP24). Konferensi iklim yang diselenggarakan di Katowice, Polandia, ini telah berlangsung selama dua pekan untuk membahas mengenai kerangka kerja Perjanjian Iklim Paris 2015.

Konsensus kerangka kerja itu bertujuan untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata dunia menjadi jauh di bawah 2 derajat Celcius (3,6 derajat Fahrenheit) di atas tingkat pra-industri.

“Tidak mudah mencapai kesepakatan yang begitu spesifik secara teknis. Melalui konferensi ini, Anda telah membuat seribu langkah maju bersama. Anda boleh merasa bangga,” kata Presiden COP24, Michal Kurtyka, kepada para delegasi, Sabtu (15/12).

Sebelum konferensi dimulai, banyak yang memperkirakan kesepakatan tidak akan tercapai. Hal itu karena negara-negara yang mendukung Perjanjian Iklim Paris kini telah terbagi, termasuk Presiden AS Donald Trump yang bermaksud untuk menarik negaranya keluar dari perjanjian itu. Di sisi lain, AS adalah salah satu negara penghasil emisi terbesar di dunia.

Namun, para delegasi yang kelelahan dalam COP24 berhasil menjembatani serangkaian hambatan untuk menghasilkan buku aturan setebal 156 halaman. Negara-negara anggota PBB kemudian akan melaporkan dan memantau janji mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperbarui rencana emisi mereka.

"Meski beberapa elemen dalam buku aturan itu masih perlu disempurnakan, ini adalah landasan untuk memperkuat Perjanjian Paris dan dapat membantu memfasilitasi masuknya AS ke dalam Perjanjian Paris oleh pemerintahannya yang mendatang," kata Alden Meyer dari Union of Concerned Scientists.

Beberapa negara mengkritik hasil konferensi karena dinilai gagal mendorong peningkatan ambisi untuk mengurangi emisi guna membatasi peningkatan suhu dunia. Negara-negara miskin yang rentan terhadap perubahan iklim juga menginginkan lebih banyak kejelasan tentang bagaimana dana sebesar 100 miliar dolar AS pada 2020 akan diberikan untuk mengurangi emisi.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menekankan perlunya lebih banyak hal yang harus dikerjakan. "Mulai sekarang, lima prioritas saya adalah: ambisi, ambisi, ambisi, ambisi, dan ambisi," kata dia.

"Dan ambisi harus memandu semua negara anggota saat mempersiapkan rencana pengurangan emisi untuk 2020, untuk membalikkan tren saat ini karena perubahan iklim masih berjalan lebih cepat dari kami," ungkapnya.

Sebuah laporan yang dibuat Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Oktober lalu memperingatkan agar dunia dapat menjaga kenaikan suhu bumi sebesar 1,5 derajat Celsius. Upaya itu akan membutuhkan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam setiap aspek masyarakat. Namun pekan lalu, Arab Saudi, AS, Rusia, dan Kuwait menolak temuan laporan tersebut.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA