Rabu, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 Desember 2018

Rabu, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 Desember 2018

Soal Ricuh Prancis, Trump Senang Keputusannya Benar

Rabu 05 Des 2018 17:40 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Donald Trump

Donald Trump

Foto: AP
Prancis tunda kenaikan pajak bahan bakar.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memuji dirinya karena telah menarik AS dari kesepakatan iklim Paris. Hal itu kembali diungkit Trump setelah Pemerintah Prancis memutuskan menangguhkan pajak bahan bakar guna meredakan kericuhan demonstran rompi kuning di negaranya.

"Saya senang teman saya @EmmanuelMacron dan para pemrotes di Paris setuju dengan kesimpulan yang saya capai dua tahun lalu (terkait kesepakatan iklim Paris)," kata Trump melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa (4/12) malam.

"Kesepakatan (iklim) Paris itu sangat salah karena meningkatkan harga energi untuk negara-negara yang bertanggung jawab sambil menutup-nutupi beberapa pencemar terburuk," ujar Trump.

Awal pekan ini, Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe memutuskan menangguhkan kenaikan pajak bahan bakar setidaknya selama enam bulan. Keputusan itu diambil setelah gelombang protes terjadi di seluruh Prancis sejak bulan lalu.

Baca juga, Pemerintah Prancis Mengalah, Pajak BBM Batal Naik.

Selama akhir pekan lalu, lebih dari 130 ribu orang berdemonstrasi di seluruh Prancis. Di Paris, demonstrasi berujung ricuh setelah massa terlibat bentrokan dengan aparat keamanan. Sejumlah mobil menjadi sasaran pembakaran. Restoran, bank, dan butik-butik mewah di kota tersebut pun turut dirusak dan dijarah para demonstran.

Kerusuhan di Paris akhir pekan lalu menjadi yang terburuk sejak 1968. Menurut jaksa penuntut Paris Remy Heitz, sebanyak 378 orang telah ditahan sehubungan dengan kerusuhan di sana.  Sebanyak 33 di antaranya berusia di bawah 18 tahun.

Adapun kesepakatan iklim Paris berisi sejumlah ketentuan yang cukup komprehensif terkait perubahan iklim. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 tersebut, mengharuskan negara-negara terlibat atau terikat untuk mengurangi emisi karbon yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

Sekitar 147 negara, termasuk AS, telah menandatangani kesepakatan itu. Hanya terdapat dua negara yang abstain, yakni Suriah dan Nikaragua.  Namun pada Juni 2017, Trump memutuskan menarik AS dari kesepakatan tersebut. Ia mengaku keberatan dengan ketentuan di dalam kesepakatan dan menuding bahwa kesepakatan itu merupakan tipuan yang dibuat Cina.

Trump menghendaki agar kesepakatan iklim Paris dapat dirombak kembali. "Kami akan bergerak untuk menegosiasikan kesepakatan yang lebih adil dan tentunya tidak merugikan bisnis serta semua pekerja di AS," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Mengenang Tragedi Rawagede Karawang

Selasa , 11 Des 2018, 23:21 WIB