Rabu, 17 Ramadhan 1440 / 22 Mei 2019

Rabu, 17 Ramadhan 1440 / 22 Mei 2019

Netanyahu akan Temui Putin, Ini yang Dibahas

Ahad 07 Okt 2018 17:24 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Vladimir Putin (kanan) dan Benyamin Netanyahu (kiri)

Vladimir Putin (kanan) dan Benyamin Netanyahu (kiri)

Foto: AP
Israel tak akan membiarkan Iran membangun pangkalan militer di Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan segera melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Isu Iran dan Suriah akan menjadi topik utama dalam pertemuan mereka.

“Beberapa waktu yang lalu saya berbicara dengan Putin melalui telepon, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan segera untuk menjaga koordinasi penting antara tentara negara kami,” kata Netanyahu, dikutip laman kantor berita Rusia TASS, Ahad (7/10).

Ia mengatakan Israel akan terus fokus mematahkan pengaruh Iran di kawasan, termasuk di Suriah. Israel tak akan membiarkan Iran membangun pangkalan militer di Suriah.

“Israel akan terus mengambil langkah-langkah untuk tidak mengizinkan Iran membangun pangkalan militer di Suriah dan mencegah Iran menyerahkan senjata mematikan kepada gerakan Hizbullah di Lebanon,” ujar Netanyahu.

Kendati demikian, Netanyahu belum mengungkapkan kapan dan di mana pertemuan dengan Putin akan dilangsungkan. Bila terlaksana, itu akan menjadi pertemuan perdana mereka pascajatuhnya pesawat pengintai Rusia di Suriah.

Baca juga, Netanyahu Ancam Serang Iran.

Pesawat tersebut jatuh akibat terhantam rudal antipesawat milik Suriah. Sebanyak 13 personel militer Rusia tewas dalam kejadian tersebut.

Kendati demikian, Moskow enggan menyalahkan Damaskus atas insiden tersebut. Rusia justru menuding Israel sebagai penyebab jatuhnya pesawat pengintai mereka. Sebab ketika insiden terjadi, pasukan Suriah memang tengah melancarkan serangan balasan terhadap Israel yang telah menggempur Latkia, yakni pangkalan udara tempat bermarkasnya pasukan Rusia.

Buntut dari insiden itu adalah Rusia memutuskan menyuplai Suriah dengan sistem rudal antipesawat S-300. Sistem rudal itu dikirim guna melindungi militer Rusia yang tengah melaksanakan misi di Suriah.

Rusia merupakan sekutu Suriah. Saat ini kedua negara tengah berusaha untuk merebut dan menguasai kembali Provinsi Idlib yang masih dikuasai kelompok pemberontak serta milisi oposisi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA