Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Rusia Mulai Blokir Akses Telegram

Selasa 17 April 2018 00:55 WIB

Red: Nidia Zuraya

Telegram diblokir (ilustrasi)

Telegram diblokir (ilustrasi)

Foto: Ilustrasi Mardiah
Telegram memiliki lebih dari 200 juta pengguna global

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Regulator telekomunikasi negara Rusia pada Senin (16/4) mengatakan pihaknya telah mulai memblokir akses ke aplikasi perpesanan Telegram. Pemblokiran dilakukan setelah perusahaan tersebut menolak mematuhi perintah untuk memberikan pihak keamanan negara Rusia akses pada pesan rahasia penggunanya.

Badan pengawas Roskomnadzor, mengatakan dalam sebuah pernyataan di laman webnya bahwa mereka telah mengirim pemberitahuan kepada operator telekomunikasi tentang pemblokiran akses pada Telegram di Rusia. Layanan perpesanan yang didirikan oleh pengusaha Rusia ini memiliki lebih dari 200 juta pengguna global dan menjadi aplikasi perpesanan seluler paling populer kesembilan di dunia.

Seorang pejabat Roskomnadzor mengatakan pihaknya akan membutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikan operasi untuk memblokir akses, menurut kantor berita Interfax.

Di Moskow, aplikasi Telegram masih berfungsi normal pada Senin (16/4) sore, namun laman web perusahaan tersebut telah diblokir oleh dua penyedia layanan terbesar Rusia, MTS dan Megafon. Baik MTS maupun Megafon menolak berkomentar.

Roskomnadzor menerapkan keputusan yang dijatuhkan pada Jumat oleh pengadilan Rusia, yang memutuskan bahwa Telegram harus diblokir, karena melanggar peraturan Rusia. Telegram telah berulang kali menolak memenuhi permintaan untuk memberikan akses Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada pesan terenkripsi para penggunanya.

FSB mengatakan pihaknya memerlukan akses untuk menjaga negara terhadap ancaman keamanan seperti serangan teroris. Namun, Telegram mengatakan kepatuhannya akan melanggar privasi pengguna.

Pendiri dan pemimpin eksekutif Telegram, Pavel Durov, mengatakan bahwa pemblokiran itu akan merusak kualitas kehidupan 15 juta orang Rusia dan tidak memberi dampak apa pun untuk meningkatkan keamanan Rusia. "Ancaman teroris di Rusia akan tetap pada tingkat yang sama, karena ekstremis akan terus menggunakan saluran komunikasi terenkripsi - di aplikasi perpesanan lain, atau lewat VPN," katanya.

"Kami menganggap keputusan pemblokiran ini merupakan anti-konstitusional dan akan terus membela hak korespondensi rahasia untuk Rusia," tambahnya.

Durov adalah pelopor media sosial di Rusia, tetapi dia meninggalkan negara itu pada 2014. Sejak itu, ia menjadi kritikus yang lantang terhadap kebijakan Kremlin tentang kebebasan berinternet.

Telegram banyak digunakan di negara-negara bekas Uni Soviet dan Timur Tengah. Selain menjadi populer oleh wartawan dan anggota oposisi politik Rusia, Telegram juga digunakan oleh Kremlin untuk berkomunikasi dengan wartawan dan mengatur panggilan konferensi reguler dengan juru bicara Presiden Vladimir Putin.

Pada Senin, kantor juru bicara menanyakan kepada wartawan yang sebelumnya berlangganan obrolan di Telegram untuk beralih ke obrolan yang telah diatur dalam layanan perpesanan yang berbeda, ICQ, yang merupakan bagian dari kelompok teknologi Mail.ru Rusia.

Sumber : Antara/Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES