Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Rusia Enggan Tanggapi Inggris, Theresa May Siapkan Balasan

Rabu 14 Maret 2018 17:07 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Nur Aini

Polisi Inggris berjaga di dekat rumah seorang mantan agen intelijen Rusia, Sergei Skripal yang diserang dengan zat agen saraf.

Polisi Inggris berjaga di dekat rumah seorang mantan agen intelijen Rusia, Sergei Skripal yang diserang dengan zat agen saraf.

Foto: Andrew Matthews/PA via AP
Rusia diduga terlibat dalam serangan menggunakan agen syaraf terhadap agen intelijen

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan Inggris akan melakukan pembalasan setelah Moskow tidak memberikan penjelasan terkait upaya pembunuhan terhadap agen ganda, Sergei Skripal. Upaya pembunuhan itu menggunakan racun syaraf.

Dilaporkan CNN, Rabu (14/3), May akan memimpin sebuah pertemuan di Dewan Keamanan Nasional Inggris dan kemudian diperkirakan akan membuat pernyataan kepada Parlemen. Hal itu dinilai akan berdampak pada hubungan Inggris dan Rusia di masa depan.

Sebelumnya pada Selasa tengah malam waktu London, May telah meminta Moskow agar merespons kesimpulan pemerintah Inggris bahwa Rusia terlibat dalam serangan racun terhadap Sergei Skripal dan putrinya Yuliana.

Setelah mengalami keracunan di sebuah bangku taman di kota Salisbury, Inggris, mereka masih dalam kondisi kritis. Sedangkan 38 orang lain yang terpapar juga masih dalam perawatan medis, termasuk seorang petugas polisi. Mereka terkena efek agen saraf yang dikenal sebagai Novichok yang dikembangkan di Rusia, pada 4 Maret lalu.

Pada Senin lalu, May mengatakan sangat mungkin Moskow berada di balik upaya penyerangan tersebut. Duta Besar Rusia untuk Inggris dihubungi oleh Kementerian Luar Negeri Inggris untuk menjelaskan apakah serangan tersebut disahkan oleh pihak berwenang Rusia atau apakah Rusia telah kehilangan kendali atas agen saraf tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menepis tuduhan keterlibatan Rusia dalam serangan tersebut seperti dilaporkan kantor berita Tass. Dia menyebut tuduhan itu sebagai omong kosong.

 

Kantornya juga mengatakan Moskow tidak akan menanggapi ultimatum London tanpa menerima sampel zat dari agen saraf tersebut. Hal ini menimbulkan pertikaian antara Downing Street dan Kremlin.

Skripal diyakini telah tinggal di Inggris sejak dibebaskan dari penjara Rusia pada 2010. Dia dihukum Rusia karena menjadi mata-mata untuk Inggris sebelum dia mendapatkan suaka dari Inggris, setelah melakukan pertukaran mata-mata tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia pada 2010.

Sejak saat itu, sejumlah orang Rusia telah diserang atau meninggal di Inggris. Serangan terbaru adalah Nikolai Glushkov, seorang pengasingan Rusia yang ditemukan tewas di rumahnya di London pada Senin malam.

Glushkov memiliki hubungan dekat dengan rekan senegaranya, kritikus yang telah meninggal sebelumnya. Glushkov dikatakan polisi setempat meninggal dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan. Namun juga mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan adanya kaitan dengan kematian Glushkov dan keracunan Skripal.

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa serangan dengan menggunakan racun syaraf terhadap Skripal merupakan yang pertama sejak akhir Perang Dunia II. Novichok diyakini 10 kali lebih kuat dari VX, agen saraf yang membunuh Kim Jong-nam. Kim Jong-nam adalah saudara seayah pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang meninggal di bandara Kuala Lumpur satu tahun lalu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES