Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

'Tak Lama Setelah Pria Itu Masuk, Gereja Meledak'

Selasa 23 Apr 2019 06:47 WIB

Rep: Fergie Nadira/ Red: Elba Damhuri

Kondisi Gereja St. Sebastian di Negombo, utara Kolombo, Sri Lanka yang hancur usai serangan bom saat misa Paskah, Ahad (21/4).

Kondisi Gereja St. Sebastian di Negombo, utara Kolombo, Sri Lanka yang hancur usai serangan bom saat misa Paskah, Ahad (21/4).

Foto: AP/Chamila Karunarathne
Saksi mata mengatakan pelaku bom gereja di Sri Lanka tampak begitu tenang.

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO -- Serangkaian ledakan yang terjadi di Sri Lanka, Ahad (21/4), merupakan aksi bom bunuh diri. Sejumlah saksi mata sempat melihat langsung para pelaku teror.

Dilip Fernando, seorang jemaat Gereja St Sebastian, Negombo, menceritakan, ia selamat dari serangan bom setelah memutuskan mencari gereja lain untuk menjalankan misa Paskah.

Saat itu, Gereja St Sebastian sangat ramai. Pensiunan berusia 66 tahun itu tak mendapatkan tempat duduk. Karena tak mau berdiri, ia memutuskan pergi ke gereja lain.

Bom meledak setelah ia pergi dari Gereja St Sebastian. Kemarin pagi, Fernando kembali ke gereja itu untuk melihat situasi terkini. "Saya biasa beribadah di sini," kata dia seperti dilansir the Guardian, Senin (21/4).

Fernando amat bersyukur bisa terhindar dari serangan bom. Ia semakin bersyukur karena tujuh keluarganya, termasuk mertua dan dua cucunya, yang memutuskan tetap berada di Gereja St Sebastian, selamat dari ledakan. Keluarganya duduk di luar gereja karena tak mendapatkan tempat.

Fernando menceritakan, keluarganya melihat seorang pemuda memasuki gereja dengan tas besar menjelang berakhirnya misa. "Dia bahkan sempat memegang kepala cucu saya sambil berjalan. Dialah pelaku pengeboman itu," katanya.

Menurut Fernando, keluarganya yakin orang itu adalah pelakunya. "Tak lama setelah pria itu masuk gereja, ada ledakan besar. Dia tampak sangat tenang. Tidak bersemangat dan tidak tampak ketakutan," katanya.

Di lokasi pengeboman lainnya, yaitu Hotel Grand Cinnamon, Kolombo, manajer hotel yang menjadi saksi mata juga sempat melihat pelaku bom bunuh diri. Pelaku yang diketahui berinisial MAM, juga terlihat tenang sebelum melancarkan aksinya.

Sang manajer yang tak mau disebutkan namanya menceritakan, pelaku menunggu dengan sabar saat mengantre makanan bufet. Sambil membawa piring dan saat akan dilayani, pelaku teror itu mengaktifkan bom yang dibawanya.

Manajer tersebut ingat betul saat itu pukul 08.30. Mereka sedang sibuk melayani para tamu.

"Saat ia berada di antrean paling depan, ia meledakkan diri. Salah satu manajer kami yang bertugas menjadi salah satu korban tewas," kata dia.

Pelaku bom bunuh diri di hotel itu merupakan warga Sri Lanka. Salah seorang staf hotel mengungkapkan, pelaku ternyata memalsukan alamatnya saat memesan kamar. Pelaku kala itu mengaku sedang berada di Kolombo untuk urusan bisnis.

Hotel Grand Cinnamon berdekatan dengan rumah dinas Perdana Menteri Sri Lanka. Pasukan khusus Sri Lanka, Special Task Force (STF), bergerak cepat ke lokasi kejadian.

Hotel itu bukan satu-satunya yang menjadi lokasi pengeboman. Dua hotel bintang lima lainnya yang turut menjadi sasaran adalah Hotel Shangri-L dan Hotel Kingsbury.

Hingga kemarin, jumlah korban tewas telah mencapai 290 orang. Jumlah itu bertambah dari hari pertama kejadian yang dilaporkan mencapai 207 orang. Saat ini, ada sekitar 500 korban luka-luka yang menjalani perawatan intensif.

Pemerintah Sri Lanka pada Senin (21/4) sore mengumumkan, akan memberikan santunan kepada korban pengeboman. Juru bicara Pemerintah Sri Lanka, Rajitha Senaratne mengatakan, setiap keluarga dari korban tewas akan mendapatkan santunan sebesar satu juta Sri Lankan rupee (5.722 dolar AS) atau sekitar Rp 80 juta.

Sri Lanka juga akan memberikan santunan sebesar 100 ribu Sri Lankan rupee atau sekitar 572 dolar AS untuk biaya pemakaman.

Adapun korban luka-luka mendapatkan santunan sekitar 570 dolar AS hingga 1.717 dolar AS. "Semua kerusakan yang timbul juga akan diperbaiki oleh pemerintah," katanya seperti dilansir the Sunday Times. (ed: satria kartika yudha)

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA