Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Reformasi Ekonomi Mesir Hantam Pengungsi Suriah

Rabu 10 Apr 2019 15:34 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Pengungsi Suriah bersiap meninggalkan negaranya untuk mencapai Arsal, kota perbatasan Lebanon Kamis (28/6).

Pengungsi Suriah bersiap meninggalkan negaranya untuk mencapai Arsal, kota perbatasan Lebanon Kamis (28/6).

Foto: AP Photo/Bilal Hussein
Sebagian besar pengungsi Suriah di Mesir terlilit utang.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Pengungsi Suriah di Mesir Ahmad al-Khatib dan putranya bekerja sebagai sopir tuk-tuk di Kairo. Tapi, pekerjaan itu tidak cukup bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beratnya reformasi ekonomi dan naiknya biaya hidup menghantam pengungsi dan imigran di Mesir. Sumbangan dari organisasi kemanusiaan menjadi satu-satunya cara Khatib menutupi biaya hidupnya. Ia juga meminjam uang dari teman-temannya.

"Bagaimana saya akan membayar mereka?" kata Khatib.

UNHCR merilis data yang mengungkapkan pada 2017 lebih 77 persen keluarga Suriah di Mesir terlilit utang. Naik empat persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data itu berdasarkan survei ke lebih dari 100 ribu pengungsi Suriah di Mesir.

Hampir 93 persen tidak dapat mengembalikan pinjaman, naik dibandingkan 2016 yang sebesar 81 persen, ketika Mesir medevaluasi mata uang sebagai bagian dari kesepakatan pinjaman IMF.

Mesir memiliki jumlah pengungsi yang lebih sedikit dibandingkan Yordania, Lebanon, dan Turki. Sebagian besar pengungsi itu melarikan diri dari perang di negara mereka. Tapi pengungsi Suriah di Mesir tidak tinggal di kamp pengungsian.

Mereka hidup di tengah-tengah masyarakat yang artinya membuat mereka terdampak secara langsung krisis ekonomi yang sedang terjadi. Hampir sekitar 250 ribu orang pengungsi dan pencari suaka yang tinggal di Mesir. Setengahnya berasal dari Suriah.

Khatib, 58 tahun menderita komplikasi termasuk infeksi prostat. Tapi ia tidak dapat membayar perawatan yang ia butuhkan. Ia biasanya hanya makan satu kali sehari untuk berhemat.

Data UNHCR menunjukkan jumlah pengungsi dan pencari suara terus meningkat. Selama dua tahun terakhir angkanya naik sampai 25 persen. Sejak 2016, Mesir mencegah imigran dan pengungsi dalam jumlah besar untuk pergi ke Eropa. Sebuah langkah yang dipuji Uni Eropa.

Namun dengan langkah tersebut ditambah semakin banyak pengungsi yang terus datang membuat para pengungsi itu tinggal di lingkungan termiskin di Mesir. Kementerian Informasi Mesir belum dapat dimintai komentar tentang hal itu.

Sebelumnya, pemerintah Mesir mengatakan perlakuan mereka terhadap pengungsi patut dicontoh. Sebab, para pengungsi dapat mengakses layanan kesehatan tanpa diskriminasi dan dapat hidup dengan bebas di tengah masyarakat Mesir.

Tidak hanya pengungsi asal Suriah yang terdampat atas reformasi ekonomi Mesir. International Organization for Migration (IOM) mengatakan permintaan bantuan untuk pembiayaan perumahan, biaya kesehatan, dan pengembalian mulai meningkat pada bulan Juni tahun lalu dan naik dua kali lipat pada September. Sebagian besar datang dari pengungsi Sudan dan Ethiopia.

"Kami yakin ini konsekuensi dari reformasi ekonomi dan pemotongan subsidi bahan bakar, yang mana membuat harga kebutuhan pokok naik," kata kepala IOM di Mesir Laurent De Boeck. 

Selain itu, kata Laurent, pemilik rumah di Mesir semakin ketat mengumpulkan uang sewa. Laurent mengatakan para imigran sebagian besar bekerja di sektor informal dan kelas bawah Mesir melihat mereka sebagai kompetitor.  

Ketika Hala Bekdash melarikan diri dari perang Suriah dan membawa anaknya ke Mesir pada 2012, harga-harga masih terjangkau. Tapi selama dua tahun terakhir ini harga-harga meroket. Bekdash mengatakan biaya hidup keluarganya naik dua kali lipat.

Bekdash, 32 tahun yang bekerja sebagai guru tidak mampu memperbaharui paspornya yang sudah kadaluarsa. Perempuan itu juga tidak dapat memperpanjang masa tinggalnya di Mesir. Ia tidak dapat membayar dendanya.

Di sisi lain Bekdash juga tidak mau pulang ke Suriah karena suaminya harus menjalani wajib militer. "Gedung tempat kami tinggal dan toko kami berada sudah hancur, kami tidak memiliki apa-apa lagi di Suriah," katanya.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA