Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Perusahaan di Selandia Baru Tarik Iklan di Medsos

Senin 18 Mar 2019 18:03 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nur Aini

Anggota masyarakat berduka di sebuah memorial bunga di dekat Masjid Al Noor di Deans Rd di Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.

Anggota masyarakat berduka di sebuah memorial bunga di dekat Masjid Al Noor di Deans Rd di Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.

Foto: EPA-EFE/Mick Tsikas
Video penembakan masjid disebarkan lewat Facebook oleh pelaku.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Beberapa perusahaan Selandia Baru mempertimbangkan apakah akan memasang ikan di media sosial. Sebab, pekan lalu terjadi penembakan massal di masjid, Christchurch yang disiarkan langsung di Facebook, dan didistribusikan kembali di platform lain.

Lotto milik pemerintah Selandia Baru menyatakan, sudah menarik iklan dari media sosial. Ini karena iklan tersebut tidak sesuai setelah kejadian penembakan.

"Seperti negara lainnya, Lotto NZ terkejut dan sedih dengan peristiwa tragis yang terjadi di Christchurch pada hari Jumat," kata juru bicara Lotto NZ, Kirsten Robinson dalam komentar email.

ASB Bank, salah satu bank terbesar di negara itu dan unit Commonwealth Bank of Australia, sedang dalam pembicaraan tentang menarik iklannya dari media sosial.

Asosiasi Pengiklan Selandia Baru dan Dewan Komunikasi Komersial meminta semua pengiklan pada Senin untuk mempertimbangkan di mana mereka menempatkan iklan. Mereka juga minta Facebook dan pemilik platform lain untuk mengambil langkah-langkah untuk mengurangi konten kebencian.

"Para perusahaan sudah bertanya apakah mereka ingin dikaitkan dengan platform media sosial yang tidak dapat atau tidak mau bertanggung jawab atas konten di situs-situs itu," kata kedua kelompok itu dalam pernyataan bersama.

"Peristiwa di Christchurch menimbulkan pertanyaan, jika pemilik situs dapat menargetkan konsumen dengan beriklan dalam mikrodetik, mengapa teknologi yang sama tidak dapat diterapkan untuk mencegah konten semacam ini disiarkan langsung?," kata pernyataan itu.

Perwakilan media dari Facebook dan Alphabet Inc. Google tidak segera menanggapi email yang meminta komentar.

Facebook mengatakan pada Sabtu, pihaknya menghapus 1,5 juta video secara global. Mereka menghapus semua versi video yang diedit dan tidak menampilkan konten grafis. Facebook dan Alphabet Inc Youtube mengatakan, mereka juga menggunakan alat otomatis untuk mengidentifikasi konten kekerasan dan menghapusnya.

Sebanyak 50 orang tewas, dan puluhan lainnya luka-luka dalam penembakan di dua masjid pada Jumat (15/3). Warga Australia, Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, didakwa melakukan penembakan tersebut.

Baca Juga

Perusahaan telekomunikasi terbesar Selandia Baru, Spark NZ Ltd, bekerja dengan sejumlah penyedia broadband untuk memutuskan akses ke puluhan situs web yang mendistribusikan kembali video penembakan tersebut.

"Ini adalah langkah yang cukup ekstrem. Kami belum pernah melakukan ini sebelumnya," kata juru bicara Spark Andrew Pirie.

Ia menolak menyebutkan nama situs web yang telah diblokir, dengan mengatakan bahwa daftar itu berkembang. Spark tidak menghalangi akses ke Facebook karena banyak pelanggan yang bergantung padanya untuk menghubungi teman dan keluarga setelah pembantaian.

Di samping itu, Pirie mengatakan, perusahaan tidak mempertimbangkan menarik iklan dari media sosial apa pun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA