Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Korsel akan Kembali Mediasi Perundingan Nuklir AS dan Korut

Senin 04 Mar 2019 16:44 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu di Vietnam, Rabu (27/2).

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu di Vietnam, Rabu (27/2).

Foto: AP
Presiden Korsel ingin kembali menengahi perundingan nuklir AS dan Korut.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in mengatakan negaranya akan mengembalikan perundingan denuklirisasi antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) ke jalur yang benar. Pernyataan Moon ini ia lontarkan dalam rapat National Security Council Korsel di Seoul.

Rapat tersebut untuk membahas tentang strategi diplomatik Korsel selanjutnya setelah pertemuan kedua Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un di Hanoi, Vietnam tidak menghasilkan apa-apa. Hal yang membuat Moon harus kembali menengahi kedua negara tersebut.

"Kami berharap kedua negara akan melanjutkan dialog mereka dan pemimpin mereka dapat segera kembali bertemu untuk meraih kesepakatan yang tertunda," kata Moon di kantor kepresiden Korsel Gedung Biru, Senin (4/3).

Moon berusaha keras melobi AS dan Korut untuk melakukan negosiasi denuklirisasi Semenanjung Korea. Langkah itu ia lakukan setelah AS dan Korut sempat bersitegang karena Korut melakukan uji coba rudal nuklir dan Trump mengancam menjatuhkan "api dan amarah" ke Korut.

"Dalam prosesnya sekali lagi peran kami sangat penting, sementara saya yakin negosiasi Amerika-Korea utara akan mencapai kesepakatan, kevakuman dialog dan kebuntuan jangan panjang tidak pernah diinginkan," kata Moon.

Ia mendesak pejabat-pejabat Korsel untuk mencari cara agar AS dan Korut dapat mengecilkan perbedaan mereka. Para pakar berpendapat kegagalan negosiasi dalam pertemuan kedua Trump dan Kim menunjukan Kim tidak bersedia menyerahkan senjata nuklirnya dan kegagalan Moon sebagai mediator.

Dalam rapat tersebut Moon juga mengatakan ia akan melanjutkan upaya kerjasama antar-Korea yang dibatasi sanksi AS terhadap Korut. Ditengah negosiasi denuklirisasi, Moon berusaha menstabilkan hubungan bilateral dengan Korut.

Namun permintaannya untuk mencabut sebagian sanksi AS terhadap Korut ditolak Gedung Putih. AS menganggap sanksi ekonomi kepada Korut masih dibutuhkan. Moon membantu pertemuan pertama Trump dan Kim pada bulan Juni tahun lalu di Singapura.

Banyak pihak yang berpendapat kegagalan pertemuan kedua Trump dan Kim disebabkan permintaan AS yang berlebih atas pencabutan sanksi mereka terhadap Korut. Di sisi lain AS dan Korsel tetap berkomitmen untuk mempertahankan atmosfir dialog.

Pada Ahad (3/3) kemarin mereka juga mengumumkan akan membatasi latihan militer gabungan skala besar dan menggantinya dengan latihan-latihan dalam skala yang lebih kecil lagi. Pembatasan skala latihan militer ini untuk menjaga hubungan diplomatik dengan Korut.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA