Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Cina: Amerika Serikat Sepakat Lanjutkan Negosiasi Dagang

Selasa 14 May 2019 23:07 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pertemuan perwakilan Amerika Serikat dengan Wakil Perdana Menteri Cina Liu He di Beijing membahas kesepakatan terkait perdagangan kedua negara.

Pertemuan perwakilan Amerika Serikat dengan Wakil Perdana Menteri Cina Liu He di Beijing membahas kesepakatan terkait perdagangan kedua negara.

Foto: AP
Pemerintah Cina klaim AS sepakat meneruskan negosiasi perdagangan

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah Cina mengatakan, Cina dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk meneruskan negosiasi soal perselisihan perdagangan kedua negara, Selasa (14/5). Hal ini disepakati ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan, diskusi kedua negara yang hendak dilakukan di Beijing akan berhasil.

Baca Juga

"Pemahaman saya adalah bahwa Cina dan AS telah sepakat untuk melanjutkan diskusi yang relevan. Mengenai bagaimana mereka mendesak saya pikir itu bergantung pada konsultasi lebih lanjut antara kedua belah pihak," ujar Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Geng Shuang tanpa memberikan rincian lebih jauh.

Kendati demikian, ia mengatakan, Cina tidak akan terganggu. "Kami berharap pihak AS tidak salah menilai situasi dan tidak meremehkan tekad Cina dan kemauan untuk melindungi kepentingannya," tambah Geng Shuang.

Komentar optimistis ini juga muncul setelah kedua belah pihak meningkatkan perang perdagangan mereka. Pertama, Cina mengumumkan rincian tarif baru terhadap impor AS pada Senin. Keputusan Cina itu dilakukan untuk menanggapi langkah AS yang lebih dulu atau pada pekan lalu hendak menargetkan impor Cina.

Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan, pihaknya berencana mengadakan dengar pendapat publik bulan depan soal kemungkinan mengenakan bea hingga 25 persen untuk impor senilai lebih dari 300 miliar dolar AS dari Cina. Mereka termasuk ponsel dan laptop akan dimasukkan dalam daftar tersebut, tetapi obat-obatan akan dikeluarkan.

Prospek ekonomi global yang terpengaruhi oleh AS dan Cina menjadi perselisihan yang lebih sengit dan berlarut-larut. Hal ini pun mengguncang investor dan memicu aksi jual tajam di pasar ekuitas dalam sepekan terakhir.

Geng mengatakan, Cina telah menunjukkan ketulusan. Salah satunya masih mengirim delegasi tingkat tinggi ke AS untuk melakukan pembicaraan pekan lalu. Cina pun, kata Geng masih tetap tenang dalam menghadapi tekanan.

Tapi, ia menyalahkan Washington karena memutarbalikan fakta yang dibuat AS sendiri dalam beberapa putaran pembicaraan sebelumnya, termasuk Mei lalu, ketika keduanya mencapai kesepakatan di Washington tetapi kemudian AS mundur beberapa hari kemudian.

"Jadi, Anda benar-benar tidak dapat menempatkan bagian Anda pada Cina untuk membalikkan posisi dan kembali pada janji seseorang," kata Geng. Cina pun menurutnya telah menunjukkan niat baik dalam pembicaraan dan menepati janji-janjinya.

Surat Kabar Harian Partai komunis itu mengatakan, Cina tidak bisa disalahkan atas defisit perdagangan besar yang diatur AS. "Cina adalah pasar yang sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan AS," demikian komentar yang diterbitkan dengan nama pena "Zhong Sheng", yang berarti "suara Cina".

"Konsumen AS, para petani, bisnis dan sebagainya telah menjadi korban dari gesekan perdagangan yang dipicu oleh AS sendiri. Mereka bukan korban 'persaingan tidak adil' Cina," tambah kutipan surat kabar itu.

Trump yang mengedepankan sikap proteksionisme, juga mengulangi retorika agenda "America First" -nya dalam serangkaian tweet Selasa. "Kami berada dalam posisi yang fantastis," tulisnya di Twitter.

Dalam pernyataannya di Twitter, Trump juga menyerukan perusahaan-perusahaan AS untuk membuat lebih banyak produk di AS. Dia pun memuji tarifnya pada baja impor untuk meningkatkan produsen dalam negeri.

Pada Senin, Trump mengatakan, dirinya  akan berbicara dengan Presiden Cina Xi Jinping pada pertemuan puncak G20 pada akhir Juni. "Mungkin sesuatu akan terjadi," kata Trump dalam sambutannya di Gedung Putih.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA