Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sejarah Pembunuhan Massal di Selandia Baru

Ahad 17 Mar 2019 15:17 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Pekerja menggali liang lahat di pemakaman Muslim bagi korban penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Ahad (17/3).

Pekerja menggali liang lahat di pemakaman Muslim bagi korban penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Ahad (17/3).

Foto: AP Photo/Mark Baker
Penembakan masjid Christchurch masuk 10 penembakan massal terburuk di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Seluruh dunia melihat Selandia Baru sebagai salah satu negara paling aman. Tapi sebenarnya negara itu juga memiliki sejarah panjang pembunuhan massal. Penembakan di dua masjid di Christchurch menjadi pembunuhan massal terburuk sepanjang sejarah Selandia Baru.

Dengan korban tewas yang mencapai 50 orang, penembakan ini masuk 10 penembakan massal terburuk di dunia. Pada 1943, sebanyak 48 tawanan perang dari Jepang ditembak dan dibunuh dalam kerusuhan di penjara tawanan perang di Featherston. Seorang prajurit Selandia Baru juga tewas dalam kejadiaan tersebut.

Perdana Menteri Jacinda Ardern menyebut penembakan Christchurch menjadi hari tergelap dalam sejarah Selandia Baru. Tapi, penembakan ini bukan satu-satunya penembakan massal yang pernah terjadi di negara itu.

Dilansir di Radio NZ, Ahad (17/3), pada 1990 David Gray menembaki orang di jalan Aramoana di dekat Dunedin. Ia membunuh 13 orang sebelum ditembak mati polisi keesokan harinya. Gray tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. Menurut The Atlantic, penembakan massal kembali terjadi pada 1997 dimana enam orang tewas dan empat lainnya terluka di Raurimu, North Island.

Pada 1941, Stanley Graham melepaskan tembakan di Hokitika. Ia menembak mati empat polisi dan tiga orang lainnya. Penembakan itu dipicu pertengkaran dengan tetangganya yang ia yakini membunuh hewan ternaknya. Graham akhirnya ditembak mati polisi dalam pemburuan besar-besaran. 

photo
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, bertemu dengan anggota komunitas Muslim setelah penembakan massal di dua masjid Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.
Pada 1992, ada dua pembunuhan massal yang terjadi di Selandia Baru. Dua peristiwa itu terjadi hanya berselang beberapa pekan.

Kejadian pertama terjadi pada Mei ketika petani Auckland Brian Schlaepfer membunuh istrinya dalam sebuah pertengkaran. Lalu, sebelum bunuh diri, Schlaepfer membunuh lima anggota keluarga lainnya, yakni tiga orang putra, satu orang menantu dan satu cucu laki-laki. Pada Juni di tahun yang sama Raymod Ratima memukul dan menusuk tujuh anggota keluarganya sampai tewas.

Di Selandia Baru, kekerasan dengan senjata sangat jarang terjadi. Tingkat pembunuhan tahunan dengan senjata juga tidak pernah mencapai digit ganda.

Dalam skala global, World Atlas memasukkan penembakan Christchurch ke posisi delapan penembakan massal terburuk dalam sejarah. Tragedi ini setara dengan pembantaian di Pulse Nightclub, Florida, Amerika Serikat pada 2016 yang jumlah korban tewasnya 49 orang.

Baca Juga

photo
Muslim Turki mengadakan shalat gaib selama demonstrasi mengutuk penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, di Ankara, Turki, 16 Maret 2019.
Penembakan massal terburuk terjadi di Peshawar, Pakistan di mana ada sebanyak 149 orang tewas. Enam orang pelaku penembakan tersebut anggota kelompok yang berafilasi dengan Taliban.

Hal itu disusul penembakan di Garissa University College di Kenya yang total jumlah korban tewasnya sebanyak 148 orang. Al-Shabaab, kelompok yang berafilasi dengan Alqaidah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA