Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Selandia Baru, Duka Kita

Sabtu 16 Mar 2019 07:13 WIB

Red: Elba Damhuri

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Daan Yahya/Republika
Penembakan jamaah masjid di Christchurch, Selandia Baru, bukti Islamofobia meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asma Nadia

Di layar ponsel, terlihat moncong senjata yang bergerak ke kanan dan kiri menembaki target di depannya. Letusan tembakan jelas terdengar beruntun, seiring muntahan peluru yang keluar dari laras senjata otomatis.

Gambaran seperti ini lazim kita saksikan jika bermain PUBG, Counter Strike, Point Blank, Rule of Survivor, atau gim adu senjata lainnya.

Akan tetapi, potongan video yang beredar Jumat siang 15 Maret 2019 bukan cuplikan aplikasi gim apa pun, melainkan live broadcast di media sosial, yang menyiarkan secara langsung pembantaian tanpa belas kasih terhadap jamaah shalat dua rumah ibadah kaum Muslimin, berlokasi di Kota Christchurch.

Tercatat setidaknya 49 orang tewas dalam peristiwa pembantaian di kota terbesar di Selandia Baru bagian pulau selatan ini. Sebanyak 41 korban terbaring di area masjid Al Noor, sedangkan sisanya ditemukan di Pusat Islam Linwood yang berjarak sekitar 5 km.

Saksi yang lolos dari pembantaian menyatakan melihat seorang lelaki dengan helm ala militer dan kacamata tempur masuk ke masjid dan mulai memuntahkan timah panas ke siapa saja yang dilihatnya.

Selama lebih kurang 15 menit, sang penyerang menembakkan peluru ke sekitar 200-an umat Islam yang berada di masjid.

Dari video yang beredar, tampak sang penembak sudah menyiapkan kamera aksi khusus untuk merekam saat berlangsungnya pembantaian. Melalui gambar yang diposting online, terlihat betapa sang teroris melakukan pembantaian dengan tenang.

Baca Juga

Begitu tenang, hingga santai saja berulang kali kembali menembaki jamaah yang bahkan sudah rebah di berbagai sudut masjid. Kamera cukup stabil, menunjukkan tidak ada kepanikan saat pembunuhan massal dilakukan.

Seakan sang pelaku bukan sedang melakukan tindakan biadab, melainkan tak ubahnya berada dalam salah satu gim di aplikasi ponsel atau komputer.

Mentalitas pembunuh seperti ini hanya mungkin dilakukan oleh manusia yang sangat terlatih atau sangat sadis sehingga sama sekali tidak merasa bersalah ketika menjalankan aksinya. Dan mentalitas ini hanya muncul ketika pelaku mempunyai ideologi sesat, tapi sangat diyakini.

Brenton Tarrant, pria kelahiran Australia berusia 28 tahun yang diduga kuat sebagai pelaku, memang mempunyai ideologi sayap kanan garis keras. Di akun Twitter yang sekarang sudah dihapus, Tarrant memposting foto dan tautan ke manifesto untuk tindakannya sebagai bentuk sikap antiimigran dan anti-Muslim.

Sayangnya, dengan ideologi seperti itu, Tarrant tidak masuk dalam daftar pengawasan aparat keamanan. Padahal, kelompok sayap kanan sangat layak menjadi perhatian karena berpotensi sekali memilih garis keras.

Pembantaian serupa juga terjadi di Norwegia yang dilakukan oleh Anders Behring Breivik, anggota kelompok kanan garis keras, yang menewaskan 77 orang.

Secara persentase, anggota kelompok ekstremis sayap kanan yang berpotensi merusak sangat besar, sedangkan sebaliknya kaum Muslimin yang memilih jalan kekerasan hanya sebagian kecil, bahkan amat kecil dibanding miliaran penganut agama Islam.

Aparat yang terdoktrin Islamofobia hanya mengawasi kelompok Muslim sebagai potensi yang mengancam keamanan. Namun, luput pada kenyataan bahwa akibat fobia ini justru membuat kaum Muslim berpotensi menjadi korban sebagaimana yang terbukti di Selandia Baru.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyebut serangan di Christchurch sebagai latest example of rising racism and Islamophobia atau contoh terkini meningkatnya rasialisme dan Islamofobia.

Sementara Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menyatakan “This reaffirms what we have always maintained: that terrorism does not have a religion” atau "Kejadian seperti ini makin menunjukkan bahwa tindakan teroris tidak mempunyai agama".

Tak urung Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, juga menegaskan hal serupa. "This can only be described as a terrorist attack," atau "Kejadian ini tidak bisa tidak adalah gambaran serangan teroris."

Di rumah-Nya, Jumat kemarin, darah umat Islam tumpah. Insya Allah, syahidnya mereka seharusnya membuka mata semua dan mengutuhkan kesadaran bahwa teorisme adalah musuh bersama.

Semoga standar ganda yang masih tersisa-abai meletakkan label teroris jika pelaku teror yang penuh kekejaman dan biadab, bukan beragama Islam.

Semoga tidak ada lagi masyarakat dunia yang mengidentikkan aksi terorime yang tidak bersandar pada agama apa pun dengan Islam.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA