Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Korut Kirim Menlu ke Cina

Kamis 06 Dec 2018 15:56 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah

Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un (kedua dari kiri) berjabat tangan dengan Presiden Cina Xi Jinping (ilustrasi).

Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un (kedua dari kiri) berjabat tangan dengan Presiden Cina Xi Jinping (ilustrasi).

Foto: Korean Central News Agency/Korea News Service via AP
Cina adalah mitra ekonomi dan politik paling penting bagi Korut.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Korea Utara (Korut) menugaskan Menteri Luar Negeri Ri Yong-ho untuk melakukan kunjungan ke Cina, negara sekutu terpenting Pyongyang, pada Kamis (6/12). Menurut Kementerian Luar Negeri Cina, Ri dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, pada Jumat (7/12).

Cina adalah mitra ekonomi dan politik paling penting bagi Korut. Namun Cina turut menandatangani sanksi ekonomi PBB yang bertujuan untuk menekan pemimpin Kim Jong-un agar segera meninggalkan senjata nuklir dan rudal balistiknya.

Kim dengan tajam meningkatkan ketegangan dengan melakukan uji coba nuklir dan rudal tahun lalu. Namun belakangan ia berubah pikiran. Kim mengulurkan tangan ke Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) tahun ini dengan janji perlucutan senjata nuklir. Korut sekarang sedang mencari jaminan keamanan dari AS dan bantuan dari sanksi internasional.

Ri juga diperkirakan akan mendapat penjelasan tentang diskusi pekan lalu antara Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Trump baru-baru ini mengumumkan pertemuan berikutnya dengan Kim kemungkinan akan terjadi pada Januari atau Februari tahun depan.

Meskipun ada optimisme di antara banyak pihak setelah pertemuan puncak antara Kim dan Trump di Singapura pada Juni lalu, hanya sedikit perubahan terjadi sejak saat itu. Beberapa ahli mengatakan AS dapat segera menerima permintaan Korut untuk bersama-sama mendeklarasikan berakhirnya Perang Korea 1950-53 sebagai bagian dari jaminan keamanan.

Korut juga menginginkan keringanan sanksi, deklarasi akhir perang, dan tindakan timbal-balik lain dari AS. Alasannya, Korut telah mengambil beberapa langkah maju, seperti membongkar fasilitas pengujian nuklirnya dan membebaskan tahanan Amerika.

Cina merupakan sekutu dekat Korut. Beijing bertempur atas nama Korut selama Perang Korea. Xi juga telah menjadi tuan rumah bagi Kim untuk tiga pertemuan puncak di Cina tahun ini, baik sebelum maupun setelah pertemuan Kim dengan Trump.

Namun, Xi tidak menghadiri perayaan ulang tahun ke-70 pendirian Korut pada September lalu. Hal itu dilihat sebagai indikasi bahwa Beijing mengharapkan adanya tindakan lebih lanjut dari Kim, termasuk kemajuan konkret menuju denuklirisasi.

Kunjungan Ri juga datang di tengah spekulasi kuat atas kemungkinan bahwa Kim akan mengunjungi Korsel bulan ini. Tidak ada pemimpin Korut yang pernah melakukan perjalanan ke Korsel sejak akhir Perang Korea, yang menewaskan jutaan orang.

Ada lima pertemuan tingkat tinggi antara para pemimpin Korea, tiga di antaranya antara Kim dan Presiden Korsel Moon Jae-in. Tetapi semua pertemuan itu terjadi di Pyongyang atau desa perbatasan antar-Korea Panmunjeom.

Sumber : AP
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Mengenang Tragedi Rawagede Karawang

Selasa , 11 Dec 2018, 23:21 WIB