Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Takut dipulangkan, Warga Rohingya Bersembunyi di Hutan

Kamis 15 Nov 2018 11:28 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah

Pegungsi Rohingya menjual sayuran kamp pengungsi Kutupalong, Bangladesh,

Pegungsi Rohingya menjual sayuran kamp pengungsi Kutupalong, Bangladesh,

Foto: Altaf Qadri/AP
UNHCR meminta proses raptriasi ditunda.

REPUBLIKA.CO.ID, COX'S BAZAR -- Bangladesh akan memulai proses pemulangan pengungsi Rohingya ke Myanmar pada Kamis (15/11). Pemulangan tetap dilakukan meskipun banyak bukti menunjukkan, tidak ada pengungsi yang bersedia untuk kembali ke Myanmar secara sukarela.

Ribuan pengungsi Rohingya yang telah dimasukkan dalam daftar dan disetujui untuk kembali ke Myanmar bulan ini, banyak bersembunyi karena ketakutan.

Pasukan keamanan Bangladesh mendatangi mereka di malam hari, mengumpulkan migran dari gubuk pengungsian, dan dengan paksa mengirim warga Rohingya melintasi perbatasan.

Kelompok pengungsi yang dilaporkan bersedia kembali ke Myanmar adalah 450 keluarga Hindu. Mereka masuk di dalam daftar 2.260 pengungsi yang telah diperiksa dan disetujui oleh Myanmar untuk kembali.

UNHCR telah menentang rencana repatriasi karena khawatir kondisi di Myanmar tidak akan menjamin hak dan keamanan Rohingya. Lembaga ini telah memulai proses wawancara terhadap setiap pengungsi yang ada di dalam daftar untuk mengetahui apakah mereka ingin kembali ke Myanmar.

Baca juga, Pence Kritik Suu Kyi Atas Kebijakan Terhadap Muslim Rohingya.

Pada Rabu (14/11) malam, beberapa jam sebelum repatriasi akan dimulai, UNHCR telah berbicara kepada 48 keluarga yang semuanya mengatakan mereka tidak ingin kembali ke Myanmar dalam kondisi saat ini. Ribuan lainnya bersembunyi meninggalkan tenda pengungsian.

Pihak berwenang Bangladesh tidak tersedia untuk dimintai komentar pada Rabu (14/11) malam mengenai apakah repatriasi akan tetap dilanjutkan meskipun ada perlawanan massa.

Qadar, seorang warga Rohingya, mengatakan kepada The Guardian dari kamp Jamtoli ada beberapa ribu pengungsi yang telah bersembunyi di hutan dan bukit-bukit di dekatnya sejak Rabu (14/11) malam. Mereka bersembunyi untuk memastikan tidak akan dikirim kembali ke Myanmar.

"Hampir semua pengungsi yang ada di dalam daftar itu telah hilang. Banyak yang mengatakan dalam situasi ini pasukan keamanan (Bangladesh) akan menangkap Rohingya lainnya yang tidak ada dalam daftar dan mendorong mereka untuk melintasi perbatasan guna memenuhi target repatriasi," kata Qadar, yang juga berada di hutan.

Di Myanmar, kata, sering warga Rohingya melarikan diri dan menghabiskan malam dengan bersembunyi di hutan dan perbukitan untuk menghindari penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Burma.

Namun ia tak pernah berpikir akan melakukan hal yang sama di Bangladesh.  "Kami tidak pernah berpikir bahkan di Bangladesh juga harus bersembunyi di hutan dengan cara ini di bawah langit terbuka," tambah dia.

Ketakutan di kamp-kamp pengungsian yang ada di Cox's Bazar, khususnya kamp Jamtoli, Unchiprang, dan Chakmarkul, meningkat pada Rabu (14/11) ketika tentara, polisi, dan paramiliter masuk untuk mencegah para pengungsi bersembunyi. Kebingungan melanda mereka karena tidak jelas apakah repatriasi benar akan dimulai pada Kamis (15/11) sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Pemerintah Myanmar dan Bangladesh.

Pengungsi Rohingya mengatakan kepada the Guardian tentang berbagai cara yang dilakukan otoritas Bangladesh untuk mencoba membujuk para pengungsi agar mau kembali ke Myanmar. Bangladesh memberi tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar Pemerintah Myanmar memberi mereka hak dan kewarganegaraan.

Tak jarang petugas juga memberikan ancaman langsung. Saifullah, yang tinggal di kamp Balukhali, mengatakan otoritas Bangladesh telah memperingatkan akan adanya tindakan tegas jika Rohingya yang berada di daftar repatriasi tidak kembali ke Myanmar.

"Mereka telah mengatakan, pengungsi Rohingya akan menghadapi kesulitan jika mereka tidak kembali ke Myanmar. Mereka mengancam akan menghentikan pasokan ransum kepada pengungsi dan melarang pengungsi bekerja dengan LSM, dan pengungsi tidak akan memiliki kebebasan untuk bergerak," ujar Saifullah.

PBB telah meminta kedua pemerintah untuk menghentikan rencana repatriasi yang tergesa-gesa itu. Tetapi permohonan tersebut tampaknya tidak didengar. Menurut kepala misi pencari fakta PBB, genosida di Rakhine terhadap minoritas Muslim itu masih berlangsung dan ada demonstrasi pekan ini di kalangan komunitas Buddha Rakhine yang memprotes kembalinya Rohingya.

Para pejabat Myanmar menyatakan para pengungsi dari Cox's Bazar akan diproses di salah satu dari dua pusat yang dibangun oleh Bangladesh. Mereka kemudian diangkut kembali ke Myanmar melalui jalur laut atau di darat ke kamp transisi Hla Po Khaung, di Negara Bagian Rakhine.

Pemerintah Myanmar telah meyakinkan masyarakat internasional bahwa Rohingya akan ditempatkan di rumah-rumah baru yang dibangun di Maungdaw. Sebagian besar dari mereka tidak akan dapat kembali ke rumah atau desa aslinya telah dibakar oleh militer Myanmar

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA