Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Anggota Parlemen India Didakwa Memerkosa Remaja Putri

Kamis 12 July 2018 05:25 WIB

Red: Ani Nursalikah

Unjuk rasa antipemerkosaan di New Delhi, India

Unjuk rasa antipemerkosaan di New Delhi, India

Foto: AP PHOTO
Lebih dari 100 pemerkosaan dilaporkan terjadi di India setiap hari.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Seorang anggota parlemen asal partai berkuasa India dikenai dakwaan terkait pemerkosaan seorang remaja putri, Rabu (11/7). Perkara itu membuat malu pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi di tengah serentetan kekerasan seksual. Pemerkosaan memicu masyarakat turun ke jalan untuk menyatakan protes.

Lebih dari 100 pemerkosaan dilaporkan terjadi di India setiap hari. Perkara menyangkut anggota parlemen itu meluas ke ranah politik. Sementara itu, pengecam menuding partai pimpinan Modi, Bharatiya Janata, di negara bagian Uttar Pradesh menghalang-halangi upaya peradilan terhadap anggota parlemen veteran Kuldeep Singh Sengar.

Sengar ditangkap pada April dalam kaitan dengan pemerkosaan seorang remaja di kota Unnao di Uttar Pradesh, negara bagian berpenduduk terpadat di India. Penangkapan Kuldeep Singh Sengar dilakukan satu tahun setelah pemerkosaan itu diduga terjadi.

Kelompok oposisi bergabung dengan aksi-aksi unjuk rasa dan doa bersama di kota-kota di seluruh India untuk mendesak agar tindakan lebih keras diterapkan, pihak berwenang Uttar Pradesh menyerahkan penyelidikan kepada Biro Pusat Penyelidikan kepolisian federal (CBI). Dalam pernyataan, CBI mengatakan telah mengajukan dakwaan berdasarkan hasil penyelidikan atas laporan yang disampaikan ibunda sang remaja. Sang ibu menduga putrinya, yang berada di bawah umur, dibawa ke rumah anggota parlemen itu oleh seorang perempuan warga setempat dan diperkosa di sana.

Pengacara Sengar, RK Singh, mengatakan pada April kliennya tidak bersalah dan kasus itu merupakan persekongkolan yang bertujuan merugikan karier politiknya. India telah mendaftarkan sekitar 40 ribu kasus pemerkosaan pada 2016. Jumlah itu meningkat dari 25 ribu pada 2012, menurut data pemerintah. Pembela hak asasi manusia mengatakan ribuan kasus lainnya tidak dilaporkan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES