Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Kunjungan Mahathir ke Saudara Tua

Jumat 29 Jun 2018 08:08 WIB

Red: Ani Nursalikah

Kunjungan Kenegaraan PM Malaysia. PM Malaysia Mahathir Mohamad tiba di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis (28/6).

Kunjungan Kenegaraan PM Malaysia. PM Malaysia Mahathir Mohamad tiba di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis (28/6).

Foto: Republika/ Wihdan
Indonesia negara pertama yang dikunjunginya dalam lawatan resmi setelah dilantik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahathir Mohamad tidak semata tercatat dalam sejarah Malaysia, namun juga dunia sebagai pemimpin negara pejawat tertua di dunia dalam usia 92 tahun, 304 hari. Rekor itu disusul oleh Ratu Elizabeth II (92 tahun, 19 hari). Ia juga merupakan pemimpin negara tertua ke-10 sepanjang sejarah.

Pria yang lahir dan besar di Alor Setar, Kedah, itu dilantik setelah kemenangan bersejarah koalisi oposisi Pakatan Harapan yang dipimpinnya pada 9 Mei 2018. Najib Razak, calon perdana menteri dari koalisi pejawat Barisan Nasional dinyatakan kalah. Dia kemudian mengakhiri masa pemerintahan perdana menteri Malaysia keenam.

Mahathir pun dilantik sebagai Perdana Menteri pada pukul 17.00 keesokan harinya. Naiknya pria yang berprofesi sebagai dokter itu kembali ke tampuk pemerintahan menjadi sesuatu yang amat menarik diperbincangkan. Bukan semata karena usianya yang telah lanjut, namun juga menggambarkan betapa kekuatan komitmen dan pemenuhan akan nation call itu bisa mengalahkan apa saja.

photo

Mahathir tampak terusik dengan berbagai hal yang terjadi menimpa bangsanya sehingga ia pun terpanggil mengembalikan pandangan negerinya kembali ke garis pendiri bangsanya. Usia baginya tak menjadi halangan sepanjang komitmennya masih tetap sama. Maka Mahathir pun diharapkan masih akan menggunakan cara dan gaya yang serupa dalam memimpin sebagaimana sebelumnya hingga melahirkan Malaysia sebagai bangsa yang memiliki pondasi kuat dalam membangun.

Sebagaimana dulu, Mahathir senantiasa mendidik bangsanya untuk selalu belajar pada siapa pun termasuk Indonesia yang dianggapnya sebagai Sang Saudara Tua. Maka, ia pun kemudian memilih Indonesia sebagai negara pertama yang dikunjunginya dalam lawatan resminya beberapa bulan setelah dirinya resmi dilantik.

Guru Bangsa

Di negerinya, Mahathir yang lahir 10 Juli 1925 itu tak bisa disangkal adalah guru bangsa yang masih amat disegani. Ia juga yang mendidik bangsanya untuk bisa berlaku hormat kepada saudara serumpun, Indonesia hingga waktu kemudian mengikisnya pelan-pelan sampai ajarannya mulai terlupakan.

Abubakar Eby Hara, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember, Jawa Timur, menuliskan dalam makalahnya yang berjudul Hubungan Malaysia dan Indonesia: Dari Saudara Serumpun ke Smart Partnership? Menurut dia, pada awalnya pemahaman Malaysia terhadap Indonesia, dalam kadar tertentu dapat dikatakan berangkat dari identitas keserumpunan, hubungan adik kakak atau hubungan sedarah.

photo

Kunjungan Kenegaraan PM Malaysia. Presiden Joko Widodo (tengah) bersama PM Malaysia Mahathir Mohamad saat tiba di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis (28/6).

Pemahaman ini yang juga diikuti Indonesia, berasal dari kenyataan Malaysia merdeka setelah Indonesia, dalam sejarahnya ada hubungan saling membantu, dan ada perasaan senasib sepenanggungan sebagai negeri yang terjajah. Kedua negara dikenal sebagai negara serumpun karena memiliki banyak kesamaan akar budaya, sejarah kerajaan­-kerajaan, agama, bahkan keturunan yang sama.

Kondisi ini menyebabkan kedua negara pada awalnya memiliki identitas bersama atau collective identity yang memudahkan mereka dalam berhubungan dan menyelesaikan masalah di antara keduanya. Malaysia dipandang hormat kepada saudara tuanya dalam hubungan kedua negara.

Namun dalam kurang lebih dua dekade belakangan ini, pemahaman Malaysia tentang Indonesia mengalami perubahan. Salah satu sebabnya adalah pandangan yang terbentuk dari persinggungan mereka dengan TKI, laporan­-laporan media dan pernyataan para pemimpin Malaysia tentang pekerja Indonesia.

photo

Ini membentuk pemahaman Malaysia lebih maju, lebih berkembang, lebih stabil dan aman daripada Indonesia. Collective identity perlahan-­lahan berganti dengan distinct identity yang berangkat dari asumsi tentang Malaysia yang lebih mampu mengelola sumber­-sumber daripada Indonesia, dan yang memerlukan ruang baru untuk terus berkembang.

Perubahan identitas ini juga perlu diletakkan dalam konteks kampanye lebih luas pemerintah disana tentang Malaysia Bole` dan konsep-­konsep seperti hubungan kerja sama berdasarkan 'Smart Partnership'. Identitas seperti ini merangkai kepentingan untuk mengklaim dan mengelola baik pulau-­pulau, wilayah dan produk budaya yang selama ini dikenal milik Indonesia.

Hal seperti itulah yang menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Mahathir untuk mengembalikan pada jalur awal. Ia yang sedari dulu dikenal amat respek kepada Indonesia menjadi harapan tersendiri bagi semakin membaiknya hubungan orang perorang antara kedua negara. Kini guru bangsa itu telah kembali memimpin bangsanya sehingga harapan besar pun lagi-lagi diletakkan di pundaknya.

photo

Presiden Joko Widodo (kiri) menyambut kedatangan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad (kedua kiri) di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta, Kamis (18/6).

Sebuah tradisi

Penghormatan untuk sebuah hubungan yang amat dekat ditradisikan antardua negara, Indonesia-Malaysia. Maka tak heran ketika, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo menyambut langsung kedatangan Mahathir Mohammad dan sang istri Siti Hasmah pada Kamis petang (28/6) di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma Jakarta Timur.

Presiden Jokowi dan Ibu Negara telah menanti di tangga pesawat begitu Mahathir dan rombongan tiba. Mahathir yang menuruni tangga pesawat lebih dahulu langsung disambut Presiden dan Ibu Negara RI.

Tak lama kemudian ketiganya menanti Siti Hasmah menuruni tangga pesawat berkarpet merah dari pesawat Airbus A399 yang mengangkut Mahathir dan rombongan. Ada pesan penting yang tersirat baik Jokowi maupun Mahathir ingin mengembalikan hubungan baik antara kedua negara dengan cara-cara lama yang lebih hangat dan jauh dari kesan emosional.

Baca juga: Ini Tujuan Kunjungan Mahathir Mohamad ke Indonesia

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA