Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Iran Peringatkan Korut Soal Trump

Rabu 13 June 2018 03:29 WIB

Rep: Fauziah Mursyid/ Red: Agung Sasongko

Seorang pria menonton layar TV yang menyiarkan pertemuan  Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Seoul Railway Station di Seoul, Korea Selatan, Selasa (12/6).

Seorang pria menonton layar TV yang menyiarkan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Seoul Railway Station di Seoul, Korea Selatan, Selasa (12/6).

Foto: AP/Ahn Young -joon
Kesepakatan denuklirisasi di semenanjung Korea bisa saja diubah secara sepihak.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran memperingatkan Korea Utara untuk tidak mempercayai pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah pertemuan sejarah antara Trump dengan Pimpinan Korea Utara Kim Jong-un di Singapura, Selasa (12/6). Iran memperingatkan pemimpin AS itu bisa saja membatalkan kesepakatan sebelum ke negaranya.

Sikap skeptis Pemerintah Iran tersebut sebagai akibat dari penarikan diri Presiden AS Donald Trump dari kesepakatan nuklir Iran, bulan lalu. Pihak Iran memandang pertemuan Trump dengan Jong Un hanya bagian publisitas semata.

"Kami tidak tahu orang macam apa yang akan dinegosiasikan dengan pemimpin Korea Utara. Tidak jelas bahwa dia tidak akan membatalkan perjanjian sebelum kembali ke rumah," kata juru bicara pemerintah Iran Mohammad Bagher Nobakht seperti dikutip The Independent dari kantor berita IRNA, Selasa (12/6).

Iran menilai,  hasil kesepakatan menuju denuklirisasi lengkap di semenanjung Korea bisa saja diubah secara sepihak. Pihak Iran meragukan AS sebagai mitra diplomatik, mengutip pengalamannya sendiri setelah pemerintahan Trump menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) - kesepakatan nuklir Iran - bulan lalu.

"Orang ini tidak mewakili rakyat Amerika, dan mereka pasti akan menjauhkan diri dari dia pada pemilihan berikutnya," katanya.

Sebelumnya, Juru bicara kementerian luar negeri Iran Bahram Qasemi juga mencemoohkan upaya diplomatik AS dan menasihati kepemimpinan Korea Utara untuk waspda dalam hubungannya dengan Washington.

Trump dan Kim Jong-un telah melakukan pertemuan di Capella Hotel di Sentosa Island, Singapura. Keduanya bertemu dalam rangka membahas denuklirisasi Semenanjung Korea.

Setidaknya terdapat empat butir kesepakatan dari hasil pertemuan Trump dan Kim. Pertama Korut dan AS sepakat menjalin hubungan baru yang mengarah ke perdamaian. Kedua, baik AS maupun Korut setuju untuk membangun rezim yang stabil di Semenanjung Korea.

Ketiga, mengacu pada Deklarasi Panmunjeom, Korut menyatakan berkomitmen melakukan denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea. Kemudian terakhir, kedua negara sepakat memulangkan tahanan perang atau tentara yang dinyatakan hilang yang telah teridentifikasi.

Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un mengatakan, dunia akan melihat perubahan besar setelah pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump pada Selasa (12/6). Ia tak menampik bahwa pertemuan dengan Trump merupakan momen bersejarah.

"Dunia akan melihat perubahan besar. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Trump untuk membuat pertemuan ini terjadi," kata Kim, dilaporkan laman kantor berita Rusia TASS. "Hari ini kita telah mengadakan pertemuan bersejarah. Kami memutuskan untuk meninggalkan masa lalu," ujar Kim menambahkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES