Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Mengapa Remaja Australia Ini Gabung ISIS?

Jumat 08 Jun 2018 02:34 WIB

Red:

abc news

abc news

Matari disebut memberikan informasi anggota, pendukung, dan penyandang dana ISIS

REPUBLIKA.CO.ID  Seorang remaja Australia, Isaak el Matari, ditahan di Lebanon dengan tuduhan mencoba bergabung kelompok teroris ISIS. Ia mengakui bergabung dengan ISIS setelah didorong oleh pimpinan sebuah badan amal di Sydney.

Pengakuan Matari (19) ini terungkap dalam berkas perkaranya di pengadilan militer Lebanon yang diperoleh ABC. Remaja asal Sydney ini telah mendekam selama sembilan bulan di penjara Roumieh yang terkenal kejam.

Matari ditangkap pihak berwajib di Lebanon utara, pada 31 Agustus 2017, hampir dua minggu setelah dia pergi ke Lebanon tanpa sepengetahuan keluarganya di Sydney. Dalam penangkapannya tahun lalu, Satuan Keamanan Dalam Negeri Lebanon mengatakan remaja ini dua hari lagi akan melintasi perbatasan ke Suriah.

Dia telah dipantau saat itu berkomunikasi dengan teroris ISIS, termasuk dengan seorang koordinator asing ISIS mengenai rencananya untuk bergabung. Sejauh ini Matari telah diajukan ke pengadilan militer dan diinterogasi oleh badan-badan intelijen negara itu.

Matari disebut memberikan informasi tentang anggota, pendukung, dan penyandang dana ISIS di Australia. ABC mendapatkan informasi bahwa pihak berwenang Lebanon kini siap mendeportasi remaja ini ke Australia. Dia kemungkinan akan menjadi perhatian pihak berwenang.

Sumber-sumber ABC mengatakan Matari dibebaskan dari penjara Roumieh hari Jumat. Dia diserahkan ke badan intelijen Lebanon untuk interogasi terakhir di Beirut sebelum dideportasi. Kepolisian Federal Australia (AFP) menolak mengkonfirmasi apakah pihaknya menyelidiki Matari atau berencana untuk menuntutnya secara hukum.

ABC memperoleh ringkasan interogasi Matari, yang menyebutkan bahwa remaja ini telah mengaku bergabung dengan ISIS karena "dikejutkan oleh penindasan berdarah di Suriah".

Berkas pengadilan menyatakan Matari mengaku kepada penyidik bahwa dia didorong bergabung dengan ISIS oleh warga Sydney bernama Adnan Baradaaji, pimpinan badan amal Dar Al Quran Wa Sunnah. Badan amal yang berbasis di Sydney dan Tripoli (Lebanon) ini didirikan untuk mengumpulkan dana bagi pengungsi Suriah.

Namun pihak berwenang Lebanon menuduh beberapa anggotanya melakukan penggalangan dana dan perekrutan untuk ISIS. Jaksa militer Lebanon mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Baradaaji pada 2015 secara in absentia dengan tuduhan penggalangan dana untuk para pejihad.

Beberapa anggota lain dari badan amal ini telah jadi tersangka di Lebanon termasuk pendirinya di negara itu, Ibrahim Barakat, yang ditangkap pada tahun 2015. Dia menggambarkan dirinya ke penyidik sebagai pemimpin religius ISIS di utara negara itu.

Jaksa menuduh Barakat mengumpulkan dana dan merekrut anggota ISIS, serta memimpin bentrokan antara militan melawan tentara Lebanon di Tripoli pada tahun 2014.

Menurut berkas pengadilan Matari, dia mengaku ke penyidik untuk menyusup ke Syria melalui kota perbatasan Arsal, lokasi kamp pengungsian tempat Dar Al Quran Wa Sunnah beroperasi. Badan amal ini merilis beberapa video dari anggotanya yang membagikan bantuan di kamp tersebut.

Matari diduga mengakui ke penyidik bahwa setelah bentrokan di Arsal antara pejihad dan tentara Lebanon pada Juli tahun lalu, ia memutuskan untuk ke Suriah dari jalur lain. Akurasi pernyataan Matari ini belum diuji dalam persidangan militer, dan Baradaaji belum didampingi oleh pengacara.

Kelompok-kelompok HAM sebelumnya menuduh pihak berwenang Lebanon menyiksa tersangka dan memaksa mereka membuat pengakuan palsu. Dar Al Quran Wa Sunnah juga menjadi sasaran investigasi polisi anti-terorisme di Australia.

Pada 2016, dua rumah anggotanya digeledah dalam operasi AFP yang membongkar penipuan jutaan dolar pada lembaga penitipan anak yang menurut polisi dipakai mendanai ISIS. Sumber-sumber kontra-terorisme kepada ABC menjelaskan operasi ini menindaklanjuti laporan intelijen mengenai dana tunjangan dan subsidi 13 juta dolar untuk penitipan anak yang disalurkan ke kelompok teroris.

Sekretaris badan amal itu, Ali Assaad, akhirnya dijatuhi hukuman penipuan dengan total hanya 5.080 dolar. Dar Al Quran Wa Sunnah sampai saat ini masih beroperasi sebagai badan amal di Australia, terdaftar pada Australian Charities and Not-for-profit Commission (ACNC).

Dalam laporannya ke ACNC, badan amal ini mengumpulkan hampir $ 1,9 juta donasi dari warga Australia dalam dua tahun terakhir. ACNC menolak untuk menjawab apakah telah mengambil tindakan terhadap Dar Al Quran Wa Sunnah.

"ACNC memiliki informasi dan wewenang pengawasan untuk membantu kami menyelidiki laporan mengenai kegiatan dan operasi badan amal yang terdaftar," kata juru bicara ACNC.

Juru bicara Deplu Australia menegaskan pihaknya memberikan bantuan konsuler kepada "pria Australia yang ditahan di Lebanon" namun menolak berkomentar lebih lanjut. ABC telah menghubungi Baradaaji dan Dar Al Quran Wa Sunnah untuk dimintai komentarnya.

Diterbitkan oleh Farid M Ibrahim dari artikel ABC Australia.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA