Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Najib Pertanyakan Klaim Utang Malaysia 1 Triliun Ringgit

Kamis 24 Mei 2018 06:15 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak memenuhi panggilan Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC) pada Selasa (22/5).

Mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak memenuhi panggilan Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC) pada Selasa (22/5).

Foto: AP/Vincent Thian
Najib menyebut pernyataan Mahathir akan menimbulkan kekhawatiran dan membingungkan.

REPUBLIKA.CO.ID, PETALING JAYA -- Mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak telah mengeluarkan peringatan kepada pemerintah Pakatan Harapan untuk membuat perbedaan yang jelas antara narasi politik dan fakta. Peringatan ini keluar menyusul klaim utang Malaysia berada di atas 1 triliun ringgit.

"Dengan mencampur dua hal ini akan menciptakan keraguan pada kredibilitas kami dan profesionalisme negara yang terlibat dalam mempersiapkan mereka, yaitu hukum Malaysia dan standar internasional," ujar Najib dalam unggahan Facebook-nya, Rabu malam (23/5).

Komentar dari Najib ini muncul menyusul pernyataan dari Perdana Menteri Mahathir Mohamad sebelumnya. Ia menyatakan utang Malaysia saat ini mencapai 1 triliun ringgit atau 65 persen dari produk domestik bruto. Dengan mengatakan rasio utang pemerintah terhadap PDB 65 persen, Najib menyebut hal ini akan mengganggu pasar keuangan, peringatan bagi lembaga pemeringkat kredit, dan kepercayaan investor di Bank Negara Malaysia.

Najib menyebut pernyataan Mahathir akan menimbulkan kekhawatiran dan membingungkan. Hal ini ditunjukkan dari indeks Bursa Malaysia yang turun paling banyak dibanding pasar saham di seluruh dunia. Puluhan miliar ringgit yang bisa dihasilkan sehari seakan dihapus dalam satu hari.

Menurut Najib, indeks Bursa Malaysia turun 40,78 poin atau 2,21 persen pada Rabu (23/5), sementara indeks saham Indonesia mengalami peningkatan 0,71 persen. Penurunan di pasar hitam ini akan berdampak negatif terhadap dana lainnya deperti dana penyediaan karyawan (EPF) dan pemodalan nasional Bhd (PNB).

"Dengan mengeluarkan pernyataan, kita tidak perlu khawatir tentang peringkat kredit sovereign negara kita turun malah akan semakin mengguncang kepercayaan di pemerintahan," katanya menambahkan.

Menurut Najib, penurunan peringkat kedaulatan negara juga akan menghasilkan peningkatan pembiayaan utang yang lebih tinggi sebesar 10 miliar ringgit per tahunnya. Ia juga menambahkan, hal ini akan menyebabkan bank-bank yang meminjam dari pasar internasional akan mendapatkan kerugian yang lebih lanjut.

Najib selanjutnya menyatakan, pernyataan yang dikeluarkan PM Mahathir dapat mengakibatkan arus modal keluar yang besar dari investor asing yang menyebabkan ringgit melemah.

"Meskipun Anda mungkin ingin memfitnah dan menyalahkan saya untuk memberikan persepsi tentang posisi keuangan yang mengerikan untuk membenarkan mengapa Anda tidak dapat memenuhi janji-janji manifesto dan secara besar-besaran memotong layanan sipil, Anda harus ingat negara dan rakyat kita diperhatikan lebih dulu," katanya.

"Anda juga mengeluarkan pernyataan menyesatkan tentang 1MDB atau mengatakan setengah cerita tentang itu untuk menyalahkan saya, tetapi waktu untuk bermain politik sudah berakhir. Kata-kata yang diucapkan dalam posisi kekuasaan seperti itu menghasilkan kerugian nyata bagi negara dan rakyat, sebagaimana dibuktikan hari ini di pasar saham. Ini tidak lagi hanya tentang suara," tulisnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES