Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Kisah Pilu Pengungsi Rohingya Menyambut Ramadhan

Kamis 17 Mei 2018 14:33 WIB

Red: Budi Raharjo

Seorang wanita pengungsi Rohingya menggendong anaknya di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh.

Seorang wanita pengungsi Rohingya menggendong anaknya di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh.

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Ramadhan mengingatkan segala kehilangan sejak terusir oleh kekejaman militer Myanmar

REPUBLIKA.CO.ID, Bulan suci Ramadhan menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Maka Ramadhan men jadi bulan penuh berkah dan disambut dengan sukacita. Namun, tidak demikian bagi Muslim Rohingya yang tinggal di pengungsian di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh. Mereka harus menyambut Ramadhan dengan pilu.

Bagi MD Hashim dan rekannya, awal Ramadhan menjadi semacam pengingat yang pahit akan segala kehilangan sejak mereka diusir dari Myanmar akibat kekejaman militer. Dalam benaknya, pengungsi berusia 12 tahun itu memimpikan Ramadhan ini bisa kembali ke desanya sendiri.

Kenangan terngiang dalam benaknya saat ia berbuka puasa dengan hidangan ikan, yang men jadi hadiah dari keluarganya. Kenangan lain ada lah bersantai di bawah pepohonan sebelum shalat Isya di masjid. "Di sini, kami tidak dapat mem beli hadiah dan tidak memiliki makanan yang baik, karena ini bukan negara kami," kata Ha shim kepada AFP di sebuah bukit tandus di Cox's Bazar, seperti dilansir Daily Mail, Rabu (16/5).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menggambarkan tindakan tentara Myanmar yang melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya yang teraniaya sebagai pembersihan etnis. Ribuan Muslim Rohingya diyakini telah dibantai dalam aksi kekerasan yang dimulai Agustus 2017 lalu.

Akibatnya, hampir 700 ribu penduduk Rohingya melarikan diri dari kekerasan tersebut ke Bangladesh. Di pengungsian inilah, mereka tinggal di gubuk bambu dengan terpal di atas lereng tanah. Mereka mengaku beruntung bisa melarikan diri dari kekejaman militer Myanmar. Namun, di sisi lain, dengan kesulitan makanan dan uang serta suhu yang panas, Ramadhan kali ini menghadirkan kecemasan bagi banyak warga Rohingya.

Sembari duduk di dalam tenda plastik di hari yang terik, Hashim tak keberatan mengingat kembali kesenangan sederhana yang membuat Ramadhan menjadi saat yang paling menyenangkan sepanjang tahun di desanya. Setiap malam, teman-teman dan keluarga akan berbuka puasa bersama dengan hidangan ikan dan daging yang dimasak hanya sekali dalam setahun pada bulan suci Ramadhan tersebut.

Sementara itu, mereka akan ditawari pakaian baru yang diberi parfum tradisional yang disebut 'attar' untuk menandai hari libur. "Kami tidak dapat melakukan hal yang sama di sini, karena kami tidak memiliki uang. Kami tidak memiliki tanah kami sendiri. Kami tidak dapat menghasilkan uang, karena kami tidak diizinkan," kata Hashim.

Penduduk Rohingya dilarang bekerja dan lebih dari dua lusin pos pemeriksaan militer melarang mereka pergi dari apa yang telah berkembang menjadi pengungsian terbesar di dunia. Karena itu, mereka hanya mengandalkan amal untuk segala kebutuhan mereka, dari mulai makanan, obat-obatan, hingga pakaian dan bahan-bahan untuk rumah.

Hashim harus berjalan lebih dari satu jam di tengah panas terik untuk mencapai pasar terdekat. Meski begitu, Hashim adalah salah satu yang beruntung, karena mampu merayakan Ramadhan bersama keluarganya. Sementara anak-anak Rohingya lainnya akan menghabiskan Ramadhan tidak hanya jauh dari rumah, tetapi juga sendirian.

Ribuan orang menyeberang ke Bangladesh tanpa orang tua atau keluarga. Mereka terpisah dalam kekacauan atau pun menjadi yatim karena kekerasan dan penyakit yang didefinisikan eksodus massal dari Myanmar. "Sayangnya, ini akan menjadi Ramadhan pertama mereka untuk dikenang karena alasan yang salah," kata Roberta Businaro dari Save the Children di Cox's Bazar. n ed: muhammad iqbal

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES