Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Kemenangan Mahathir Bisa Ancam Investasi Cina di Malaysia

Jumat 11 May 2018 08:24 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Nur Aini

 Aliansi partai oposisi yang dipimpin Mahathir Mohamad berhasil memenangkan pemilihan umum Malaysia, yang hasil resminya diumumkan pada Kamis (10/5).

Aliansi partai oposisi yang dipimpin Mahathir Mohamad berhasil memenangkan pemilihan umum Malaysia, yang hasil resminya diumumkan pada Kamis (10/5).

Foto: AP/Andy Wong
Mahathir tak setuju dengan sejumlah perjanjian investasi Cina dengan Malaysia.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Pemilihan Umum (pemilu) di Malaysia pada Rabu (9/5) menghasilkan kemenangan bagi kubu oposisi. Kemenangan dari kubu opisisi tersebut dikabarkan akan mengancam investasi yang dilakukan Cina di Malaysia.

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang memimpin kubu oposisi tersebut mengungkapkan pihaknya akan melakukan negosiasi kembali terhadap perjanjian yang sudah dilakukan Cina dengan Malaysia.

Dia menegaskan tidak bermasalah dengan Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas Cina dan program investasi infrastruktur. Namun, ada beberapa perjanjian yang tidak ia sukai. "Kami tidak ingin melihat terlalu banyak kapal perang di daerah ini, karena kapal perang menarik kapal perang lainnya," kata Mahathir dilansir dari CNBC, Jumat (11/5).

Komentar itu menguat di akhir masa pemerintahan Perdana Menteri Najib Rzak. Berdasarkan laporan dari  Economist Intelligence Unit, Malaysia menerima investasi luar negeri terbesar keempat dari Cina pada tahun lalu.

Mahathir mengungkapkan ia bertentangan dengan beberapa investasi Cina selama di bawah pemerintahan Najib. Sementara itu, saat ini di Malaysia, sejumlah proyek pelabuhan dan kereta api utama telah dijadwalkan segera dibangun dan akan menerima sekitar 101 miliar dolar AS dari investasi Cina selama dua dekade berikutnya.

Zona Perdagangan Bebas Digital yang dipimpin Alibaba juga dianggap sebagai bagian dari BRI. Zona itu didirikan di Kuala Lumpur awal tahun ini dalam upaya untuk meningkatkan perdagangan antara Cina dan kawasan Asia Tenggara.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Mengenang Tragedi Rawagede Karawang

Selasa , 11 Dec 2018, 23:21 WIB