Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Filipina Selidiki Facebook Terkait Kebocoran Data

Sabtu 14 April 2018 02:00 WIB

Red: Nidia Zuraya

Skandal Facebook

Skandal Facebook

Foto: republika
Data pribadi 1,17 juta akun Facebook di Filipina bocor.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Lembaga pemantau privasi Filipina pada Jumat memulai penyelidikan terhadap Facebook terkait kebocoran data lebih dari satu juta pengguna di Filipina yang melibatkan konsultan politik Cambridge Analytica. Sebelumnya lembaga pemantau di Uni Eropa juga melakukan yang sama untuk menyelidiki lebih dalam terkait praktik penyedotan data pribadi untuk kepentingan ekonomi dan politik.

 

Selain Amerika Serikat, Filipina adalah negara dengan jumlah pengguna yang datanya disedot oleh Cambridge Analytica, dengan jumlah 1,17 juta orang, kata Komisi Privasi Nasional (NPC) pada pekan lalu. Dalam sebuah surat kepada pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, bertanggal 11 April, NPC mengatakan bahwa pihaknya akan menyelidiki bagaimana Facebook membagi data pribadi warga Filipina kepada pihak ketiga, dan meminta perusahaan media sosial itu mengambil langkah nyata dalam melindungi kerahasiaan pengguna.

 

"Kami memulai investigasi terhadap Facebook untuk mengetahui apakah ada pemrosesan data pengguna Filipina yang tidak sah, dan juga kemungkinan pelanggaran undang-undang privasi data," kata NPC dalam surat yang dipublikasikan pada Jumat itu.

 

Sementara itu juru bicara Facebook mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk melindungi informasi pengguna dan bekerja sama dengan lembaga pengawas privasi Filipina. "Baru-baru ini kami memperbaharui alat pelindung privasi bagi pengguna agar mereka bisa membatasi akses data di Facebook," kata Facebook.

 

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa warga Filipina termasuk sebagai pengguna media sosial paling aktif di dunia. Mereka rata-rata menghabiskan waktu lebih dari empat jam sehari di Facebook.

 

Facebook mengakui bahwa 87 juta data pribadi pengguna dari seluruh dunia secara tidak sah diakses oleh Cambridge Analytica, yang mengakui bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah salah satu klien mereka.

 

Sebuah surat kabar Hong Kong mengabarkan bahwa beberapa orang yang terlibat dalam kampanye Presiden Rodrigo Duterte pada 2016, telah bertemu dengan Alexander Nix, yang merupakan mantan direktur eksekutif Cambridge Analytica. Para pejabat itu mengatakan bahwa pertemuan dengan Nix terjadi saat istirahat makan siang di tengah seminar mengenai teknologi informasi di Manila, dan tidak menjalin kontak lagi setelah itu.

 

Sementara itu juru bicara presiden pada Selasa mengatakan bahwa tim kampanye Diterte tidak mempekerjakan Cambridge Analytica. Duterte, mantan wali kota yang muncul di luar lingkaran elit politisi nasional, dengan gemilang berhasil menggunakan media sosial untuk membantu dia memenangi pemilu 2016 dengan selisih yang sangat besar.

 

Mereka mepekerjakan sejumlah artis media sosial mempromosikan Duterte. Namun Duterte sendiri mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan media sosial dan membantah punya hubungan dengan Cambrigde Analytica.

 

"Kenapa saya harus membayar orang-orang bodoh dari Cambridge itu untuk kampanye saya? Saya justru bisa kalah," kata Duterte.

 

Sumber : Antara/Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES