Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Pendidikan Pilar Penting Hubungan Indonesia dan Australia

Jumat 06 April 2018 23:43 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Para mahasiswa Indonesia di The Australian National University (ANU) Canberra.

Para mahasiswa Indonesia di The Australian National University (ANU) Canberra.

Foto: Republika/Fernan Rahadi
'Para mahasiswa adalah aset penting'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendidikan merupakan pilar penting dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia. Hal itu diungkapkan Konsul Jenderal RI di Sydney, Heru Hartanto Subolo dalam pertemuan dengan para akademisi dari New South Wales (NSW) Vice-Chancellors' Sub-Committee yang berlangsung di Universitas Katolik Australia, Kampus Sydney pada Rabu (4/4).

Pernyataan yang diterima di Jakarta, Jumat (6/4) menyebutkan, bahwa dalam pertemuan tersebut, Konjen Subolo didampingi oleh Konsul Penerangan, Sosial dan Budaya KJRI Sydney, Hermanus Dimara.

Sementara itu, Sub-Committee NSW yang hadir dalam pertemuan itu adalah para wakil dari universitas-universitas utama di NSW, termasuk Universitas Sydney Barat, Universitas Sydney, Universitas New South Wales (UNSW), dan Universitas Katolik Australia.

"Para mahasiswa adalah aset penting karena mereka merupakan pemimpin masa depan kedua negara kita. Mereka juga adalah jembatan penghubung bagi hubungan yang lebih kuat dan lebih rekat antara Indonesia dan Australia. Para mahasiswa merupakan inti dari hubungan antar orang dengan orang antara kedua negara kita," jelas Konjen Heru Subolo.

Sub Komite NSW yang terdiri atas para wakil dari universitas-universitas terkemuka di NSW melakukan pertemuan secara guna membahas isu yang terkait dengan kerja sama internasional dan penetrasi global universitas-universitas tersebut.

Sub Komite kemudian melaporkan hasil pertemuan dan rekomendasi yang diperoleh kepada organisasi induknya, yakni, NSW Vice-Chancellors' Committee (Komite Wakil Konselor NSW).

Para wakil konselor memiliki dua peran utama, yaitu, sebagai "Principal Academic Officer" atau Pejabat Akademik dan sebagai CEO atau Pemimpin Eksekutif dari sebuah universitas.

Indikasi dari sebuah peningkatan kerja bilateral di bidang pendidikan adalah jumlah mahasiswa yang melanjutkan studi, baik di Indonesia maupun di Australia.

"Namun jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di NSW belum signifikan," kata Konjen Subolo.

Menurut dia, kedua pihak perlu meningkatkan jumlah mahasiswa melalui antara lain pemberlakuan biaya kuliah yang lebih kompetitif yang akan menjadi daya tarik bagi lebih banyak mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan studi di NSW dan negara bagian lain di Australia.

Subolo berharap kolaborasi yang lebih massif antara KJRI Sydney dan universitas-universitas di Australia. Dia mengagumi kesuksesan dan pentingnya beasiswa New Colombo Plan dari Pemerintah Australia bagi hubungan antarorang dengan orang yang lebih luas antara Australia dan negara-negara ASEAN, secara khusus Indonesia.

Sementara itu, para wakil universitas-universitas di NSW pada pertemuan tersebut menjelaskan hubungan dan kerja sama universitas dengan Indonesia, termasuk mengenai jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di universitas-universitas tersebut dan prioritas kolaborasi riset serta pentingnya menyediakan lebih banyak beasiswa bagi para mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Australia.

Para wakil universitas tersebut juga menyampaikan bahwa mereka memahami kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia, baik dalam hal biaya hidup, perjalanan, biaya visa, dan biaya lainnya.

Mereka mengemukakan upaya-upaya berkelanjutan yang dilakukan untuk membuat semua biaya tersebut dapat dijangkau. Mereka juga akan memberikan masukan kepada pemerintah NSW dan pemerintah federal untuk meningkatkan perlakuan yang sama terkait biaya pendidikan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES