Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Korut Batalkan Pertemuan dengan Wapres AS

Rabu 21 Februari 2018 15:50 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Wapres AS Mike Pence

Wapres AS Mike Pence

Foto: AP
Pembatalan pertemuan karena kritik Pence yang terlalu keras terhadap Korut.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Pejabat Korea Utara (Korut) membatalkan rencana pertemuan dengan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence di sela-sela perhelatan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang di Korea Selatan (Korsel). Hal ini diungkapkan kepala staf Mike Pence, Nick Ayers, Selasa (20/2).

Menurut Ayers, setelah upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang, tepatnya pada 10 Februari, delegasi pejabat Korut yang dipimpin adik perempuan Kim Jong-un, Kim Yo Jong dijadwalkan menggelar pertemuan dengan Pence. Namun dua jam sebelum pertemuan dimulai, delegasi pejabat Korut membatalkan rencana tersebut.

Menurut Ayers, pembatalan pertemuan itu disebabkan karena kritik Pence yang terlalu keras terhadap Korut. "Setelah Pence mengecam pelanggaran hak asasi manusia di Korut dan mengumumkan rencana menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap negara tersebut, mereka berjalan menjauh dari sebuah pertemuan atau mungkin mereka memang tidak pernah tulus untuk duduk," katanya.

Ia mengatakan, Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bila Korut hendak bicara, perwakilan AS akan tetap menyampaikan pesannya tanpa kompromi. "Jika mereka meminta pertemuan, kami akan bertemu. Dia (Trump) juga menjelaskan sampai mereka sepakat menyelesaikan denuklirisasi, kami tidak akan mengubah posisi atau negosiasi kami," ujar Ayers.

"Pemerintahan ini akan menghalangi keinginan Kim Jong-un untuk melubangi rezim pembunuh mereka dengan foto-foto bagus di olimpiade. Mungkin karena itulah mereka berjalan menjauh, mungkin mereka tidak pernah tulus untuk duduk," kata Ayers.

Rencana pertemuan antara Kim Yo Jong dengan Mike Pence menjadi yang pertama dijadwalkan oleh kedua negara. Bila terselenggara, pertemuan ini juga menjadi yang perdana antara pejabat tinggi kedua negara.

Korut dan AS kerap terlibat perang urat syaraf dan aksi saling kecam. AS selalu menyerukan kepada Korut agar meninggalkan proyek rudal dan nuklirnya. Namun seruan ini tak pernah dihiraukan.

Kendati telah dijatuh sanksi bertubi-tubi oleh Dewan Keamanan PBB, Korut masih belum menyatakan akan menghentikan pengembangan rudal dan nuklirnya. Pyongyang justru sempat menyatakan sanksi berlapis yang diterimanya kian meyakinkan jalan yang ditempuhnya saat ini untuk mengembangkan rudal dan nuklir sudah tepat.

 

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES