Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Korut Luncurkan Rudal Balistik Jarak Pendek Baru

Senin 06 Mei 2019 09:25 WIB

Red: Budi Raharjo

Warga Korea Selatan (Korsel) menonton tayangan peluncuran proyektil Korea Utara (Korut) dalam program berita di Seoul Railway Station di Seoul, Korsel, Sabtu (4/5).

Warga Korea Selatan (Korsel) menonton tayangan peluncuran proyektil Korea Utara (Korut) dalam program berita di Seoul Railway Station di Seoul, Korsel, Sabtu (4/5).

Foto: AP Photo/Ahn Young-joon
Rudal yang dimiliki Korut berpotensi menjangkau semua wilayah Korsel.

REPUBLIKA.CO.ID,PYONGYANG -- Media pemerintah Korea Utara (Korut), KCNA, melaporkan pada Ahad (5/5), pemimpin Korut, Kim Jong-un, tengah mengamati latihan peluncuran roket jarak jauh berganda dan rudal balistik jarak pendek baru. Kim menyatakan kepuasannya atas latihan kali ini.

Kim juga menekankan bahwa pasukan garis depannya harus tetap pada tingkat siaga tinggi. Mereka juga perlu meningkatkan kemampuan tempur untuk mempertahankan kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi negara itu.

"Memuji Tentara Rakyat atas operasi luar biasa dari peluncuran roket berkaliber besar modern dan senjata taktis. Dia mengatakan bahwa semua anggota adalah penembak mahir dan mereka mampu melaksanakan tugas untuk segera mengatasi situasi apapun," sebut KCNA dari apa yang di sampaikan oleh Kim.

Kim juga menekankan perlunya semua anggota untuk siaga tinggi dan secara lebih dinamis mengobarkan upaya untuk meningkatkan kemampuan tempur. Hal ini perlu dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan politik, ekonomi swadaya negara dan keamanan rakyat dari ancaman, serta invasi oleh kekuatan apapun.

Pada Sabtu (4/5) Korut menembakkan rudal jarak pendek yang dianggap oleh sebagian pihak sebagai tanda frustrasi Pyongyang atas pembicaraan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) yang tak mencapai kesepakatan. Korea Selatan (Korsel) juga menyatakan sangat prihatin tentang peluncuran senjata Korut.

Korsel menyebut, Korut telah melakukan pelanggaran perjanjian dalam mengurangi permusuhan antarnegara. Pernyataan itu dikeluarkan setelah pertemuan darurat pada Sabtu lalu antara para pejabat tinggi di Blue House, Seoul.

Mereka mendesak Korut berhenti melakukan tindakan yang akan meningkatkan ketegangan militer. Korsel juga meminta Korut bergabung dalam upaya melanjutkan diplomasi nuklir.

Surat kabar resmi Korut, Rodong Sinmun, memublikasikan foto-foto yang menunjukkan Kim, dilengkapi denganteropong. Ia mengamati, uji coba berbagai sistem senjata, termasuk beberapa peluncur roket dan rudal jarak pendek yang ditembakkan dari kendaraan peluncur.

Seorang analis dari Institute for Far Eastern Studies Seoul, Kim Dong-yub, mengatakan, rudal Korut menjadi model setelah sistem rudal balistik jarak pendek 9K720 Iskander Rusia. Rudal berbahan bakar padat Korut, disampaikan Kim, berpotensi mampu menjangkau semua wilayah Korsel.

"Korut berusaha menunjukkan dengan jelas kemampuannya untuk menyerang target apapun di Semenan jung Korea, termasuk pasukan AS yang ditempatkan di seluruh negeri di berbagai bidang, seperti Seoul, Pyeongtaek, Daegu, dan Busan," kata Kim Dong.

Peluncuran ini juga dilakukan di tengah gangguan diplomatik setelah kegagalan pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Kim atas denuklirisasi. Analis Luar menyatakan, Korut mungkin memiliki rudal-rudal bersenjata nuklir jarak pendek yang dapat bertahan, akan tetapi masih membutuhkan lebih banyak tes untuk menyempurnakan senjata jarak jauhnya.

Trump mengatakan pada Sabtu, ia masih percaya kesepakatan nuklir dengan Korut akan terjadi. Melalui Twitter, Trump menyampaikan, Kim sepenuhnya menyadari potensi ekonomi Korut yang besar. Untuk itu, Kim tidak akan melakukan apapun untuk mengakhirinya.

"Dia juga tahu bahwa saya bersamanya dan tidak ingin mengingkari janjinya kepada saya. Kesepakatan akan terjadi!" cicit Trump.

Sebelumnya, Kim Jong-un telah memperingatkan bahwa ketegangan dan krisis di Semenanjung Korea dapat dengan mudah terjadi kembali. Menurut Kim, hal itu merupakan tanggung jawab AS karena telah mengambil sikap sepihak pada KTT Korut-AS di Hanoi, Vietnam, bulan lalu.

"Situasi di Semenanjung Korea dan kawasan itu sekarang terhenti dan telah mencapai titik kritis di mana ia dapat kembali ke keadaan semula ketika AS mengambil sikap sepihak dengan iktikad buruk di pembicaraan KTT Korut-AS kedua, baru-baru ini," ujar Kim.

Saat bertemu Presiden AS Donald Trump di Hanoi, Kim meminta AS mencabut sebagian sanksinya. Langkah itu dinilai layak dilakukan karena Korut telah menutup sebagian situs uji coba rudal serta nuklirnya. Namun, Trump menolak. Dia menegaskan bahwa sanksi hanya akan dicabut sepenuhnya ketika Korut melakukan denuklirisasi lengkap serta terverifikasi.

Kim menegaskan Korut akan menunggu hingga akhir tahun agar AS mengubah sikapnya menjadi lebih fleksibel. "Korut akan mempersiapkan dirinya untuk setiap situasi yang mungkin terjadi," kata dia. (rossi handayani/kamran dikarma/reuters ed: setyanavidita livikacansera)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA