Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Parlemen Eropa Akui Guaido Presiden Sementara Venezuela

Jumat 01 Feb 2019 10:32 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido (tengah depan)

Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido (tengah depan)

Foto: AP Photo/Fernando Llano
Uni Eropa siap memberlakukan sanksi untuk Presiden Maduro.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Parlemen Eropa telah mengakui Juan Guaido sebagai presiden sementara Venezuela pada Kamis (31/1). Hal itu meningkatkan tekanan internasional terhadap pemerintahan Nicolas Maduro.

Dalam sesi khusus yang digelar di Brussels, Belgia, sebanyak 439 anggota parlemen Uni Eropa mendukung kepemimpinan sementara Guaido atas Venezuela. Sementara 104 anggota lainnya menentang dan 88 memilih abstain.

Setelah sesi tersebut, 28 negara anggota Uni Eropa didesak mempertimbangkan Guaido sebagai satu-satunya presiden sementara yang sah. Posisi itu akan diembannya hingga pemilu baru yang bebas, transparan, dan kredibel dilaksanakan.

Guna mendorong penyelenggaraan pemilu baru, Uni Eropa telah membentuk kelompok penghubung beranggotakan Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, dan Italia. Beberapa negara Amerika Latin seperti Bolivia dan Ekuador juga akan dilibatkan Uni Eropa dalam kelompok tersebut.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan kelompok penghubung itu tak bertugas memediasi atau menciptakan dialog antarpihak di Venezuela. "Tujuan dari pelaksanaan ini adalah untuk menemani negara itu (Venezuela) dengan cara yang damai dan demokratis menuju pemilihan yang damai serta demokratis dan bebas," katanya.

Mogherini sempat ditanya perihal peluang bagi kelompok penghubung untuk menyelesaikan krisis politik Venezuela. "Kami mengambil risiko besar, dalam arti bahwa tanda-tanda itu tidak terlalu menggembirakan," ujarnya.

Kelompok penghubung itu akan bertugas selama 90 hari. Jika tak ada perubahan terkait krisis di Venezuela, Uni Eropa siap memberlakukan sanksi bagi pemerintahan Maduro.

Krisis politik di Venezuela terjadi setelah ratusan ribu warga di sana berdemonstrasi menuntut Presiden Nicolas Maduro mundur dari jabatannya. Majelis Nasional Venezuela kemudian menyatakan bahwa pemerintahan Maduro tidak sah.

Juan Guaido selaku pemimpin oposisi dan Majelis Nasional kemudian memproklamirkan dirinya sendiri sebagai presiden sementara negara tersebut. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS), Israel, dan Australia telah menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan Guaido. Sementara, Rusia dan Cina mengecam intervensi pihak asing dalam krisis politik yang sedang berlangsung di sana.

Baca: Polisi Datangi Kediaman Pemimpin Oposisi Venezuela

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA