Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Perjanjian Nuklir AS-Rusia Terancam Bubar

Kamis 31 Jan 2019 17:00 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Tentara Rusia di samping rudal penjelajah darat 9M729 dengan peluncurnya di Kubinka, Rusia, Rabu (23/1).

Tentara Rusia di samping rudal penjelajah darat 9M729 dengan peluncurnya di Kubinka, Rusia, Rabu (23/1).

Foto: AP Photo/Pavel Golovkin
AS memang tidak lagi berniat berada dalam perjanjian tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Perjanjian nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS), Intermediate-range Nuclear Forces Treaty (INF), terancam bubar. Kedua negara belum mencapai kesepakatan setelah AS menentukan tenggat waktu 60 hari agar Rusia mematuhi INF pada 4 Desember tahun lalu.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov melakukan pembicaraan dengan Wakil Menteri AS untuk Kontrol Senjata dan Keamanan Internasional Andrea Thompson di Beijing, Cina, Kamis (31/1). Mereka bertemu di sela-sela pertemuan puncak lima kekuatan nuklir dunia.

Pertemuan Ryabkov dan Thompson yang sengaja dilakukan untuk mempertahankan perjanjian INF tak membuahkan hasil positif. Menurut Ryabkov, AS memang tidak lagi berniat berada dalam perjanjian tersebut.

"AS memberlakukan periode 60 hari di mana kami harus memenuhi ultimatum mereka. Saya menyimpulkan AS tidak mengharapkan keputusan apa pun dan semua ini adalah permainan yang dibuat untuk menutupi keputusan domestik mereka menarik diri dari perjanjian INF," kata Ryabkov, dikutip laman Sputnik.

Pernyataan itu diutarakan Ryabkov sebab AS menolak tuntutan Rusia terkait sistem peluncuran rudal vertikal MK-41, yang telah dianggap Moskow melanggar ketentuan INF. "Tidak ada reaksi apa pun terhadap tuntutan kami terkait sistem peluncuran US MK-41 yang sudah dikerahkan ke Rumania dan akan dikerahkan ke Polandia sebagai bagian dari kompleks Aegis Ashore," ujarnya.

Pada 4 Desember tahun lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Rusia memiliki waktu 60 hari untuk mulai mematuhi perjanjian INF. Ultimatum diberikan setelah Washington mengumumkan niatnya mundur dari INF.

Hal itu dilakukan karena AS menuding Rusia telah melanggar perjanjian INF dengan memiliki rudal 9M729. Moskow menyangkal tuduhan tersebut.

Pada pertemuan pertengahan Januari lalu, Rusia mengklaim telah menawarkan agar para ahli AS melakukan inspeksi dan melihat langsung rudal 9M729. Tapi AS menolak tawaran tersebut.

Sikap AS itu sangat disesalkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. "Logika semua pendekatan AS yang disuarakan kemarin hanya itu, 'Anda melanggar perjanjian, kami tidak melanggar, oleh karena itu Anda, Rusia, wajib melakukan apa yang kami minta dari Anda dan kami tidak harus melakukan apa pun'," katanya.

Dengan belum adanya penyelesaian yang disepakati kedua belah pihak, AS kemungkinan besar resmi mundur dari INF pada 2 Februari mendatang. INF ditandatangani AS dan Uni Soviet pada 1987. Perjanjian tersebut melarang kedua belah pihak memproduksi atau memiliki rudal nuklir dengan daya jangkau 500-5.500 kilometer.

Sejak 2014, AS kerap menuding Rusia melanggar INF. Namun, tudingan itu selalu dibantah oleh Moskow. Pada Oktober 2018, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya menarik AS dari INF. Rencana tersebut juga telah disampaikan secara resmi kepada Rusia pada Desember tahun lalu.

Rencana mundurnya AS dari INF memicu kekhawatiran, terutama dari Eropa. Benua Biru telah menganggap INF sebagai fondasi keamanannya. Dengan hengkangnya AS, potensi terjadinya perlombaan senjata baru seperti era Perang Dingin terbuka lebar dan akan menempatkan Eropa dalam bahaya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA