Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Siapa Membidik Jamal Khashoggi?

Jumat 12 Okt 2018 08:39 WIB

Red: Elba Damhuri

Seorang gadis memegang poster dengan foto penulis Arab yang hilang Jamal Khashoggi, selama protes dekat konsulat Arab Saudi di Istanbul,

Seorang gadis memegang poster dengan foto penulis Arab yang hilang Jamal Khashoggi, selama protes dekat konsulat Arab Saudi di Istanbul,

Foto: AP /Lefteris Pitarakis
Erdogan menyatakan akan terus mengikuti dan mengawal kasus Khashoggi ini.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Kamran Dikarma

Kasus hilangnya jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi terus menuai kritik dan kecaman. Siapa dalang di balik hilangnya jurnalis kritis ini masih terus didalami.

Pemerintah Arab Saudi dituding mengetahui dan ikut bertanggung jawab atas Khashoggi. Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) disebut-sebut memerintahkan operasi penangkapan jurnalis Jamal Khashoggi.

Hal itu rencananya dilakukan dengan memancing Khashoggi kembali ke negaranya dari tempat tinggalnya selama ini di Virginia, Amerika Serikat (AS). Khashoggi pun mendatangi konsulat Amerika Serikat (AS) di Istanbul, Turki.

Dilaporkan laman Washington Post, rencana Pangeran MBS untuk menangkap dan menahan Khashoggi diperoleh intelijen AS dari pejabat-pejabat Saudi yang membahas hal tersebut. Kendati demikian, Pemerintah AS belum mengonfirmasi sepenuhnya terkait informasi yang telah beredar itu.

"Meskipun saya tidak dapat berkomentar tentang masalah intelijen, saya dapat mengatakan secara definitif bahwa AS tidak memiliki pengetahuan awal atas hilangnya (Khashoggi)," kata wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Palladino, kepada awak media pada Rabu (10/10).

Ketika ditanya apakah Pemerintah AS memiliki kewajiban memperingatkan Khashoggi bila dia dalam bahaya, Palladino menolak menjawab. Ia menilai pertanyaan itu merupakan pertanyaan hipotesis.

Seorang mantan pejabat intelijen AS yang tak disebut namanya mengatakan, badan intelijen AS memiliki kewajiban memperingatkan orang-orang yang mungkin diculik, dilukai, atau dibunuh. "Kewajiban untuk memperingatkan berlaku jika bahaya ditujukan kepada seseorang," kata dia.

Menurut dia, kewajiban itu berlaku terlepas dari apakah orang tersebut merupakan warga negara AS atau bukan. Khashoggi sendiri sudah menjadi warga AS.

Terlepas dari valid atau tidaknya informasi tentang rencana penangkapan tersebut, beberapa rekan Khashoggi mengatakan bahwa selama empat bulan terakhir, para pejabat senior Saudi yang dekat dengan Pangeran MBS telah menawarkan perlidungan untuknya. Khashoggi bahkan ditawarkan jabatan tinggi di pemerintahan bila bersedia kembali ke Saudi.

"Dia (Khashoggi) berkata, 'Anda bercanda ya? Saya tidak mempercayai mereka (Pemerintah Saudi) sedikit pun,'" kata Khaled Saffuri, seorang aktivis politik Arab-Amerika, menceritakan percakapannya dengan Khashoggi yang terjadi pada Mei lalu, tepatnya setelah Khashoggi menerima panggilan dari Saud al-Qahtani, seorang penasihat istana kerajaan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa AS akan bersikap tegas terhadap kasus Khashoggi. "Kami memiliki penyelidik di sana dan kami bekerja sama dengan Turki dan Arab Saudi," kata Trump yang dikutip AP.

"Kami ingin tahu apa yang terjadi," ujarnya. "Dia (Khashoggi) masuk, tetapi tidak terlihat keluar. Tentunya ia tidak mungkin berkeliaran di mana-mana."

Khashoggi dilaporkan hilang setelah mendatangi gedung Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu. Dua pejabat kepolisian Turki mengklaim Khashoggi telah dibunuh di dalam gedung konsulat. Namun, tuduhan tersebut segera dibantah pejabat konsulat Saudi di Istanbul.

Khashoggi merupakan jurnalis Saudi yang kini menjadi kolumnis di the Washington Post. Selama berkarier sebagai jurnalis, dia diketahui kerap melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Saudi. Pangeran MBS yang dipuji karena dianggap melakukan reformasi sosial di Saudi pun tak luput dari kritikannya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, negaranya tidak akan berdiam diri atau bungkam perihal peristiwa hilangnya Khashoggi. Ia mengatakan, Turki sangat serius menangani kasus tersebut.

"Kami sedang menyelidiki semua aspek peristiwa (hilangnya Khashoggi). Tidak mungkin bagi kami untuk tetap diam mengenai kejadian seperti itu karena ini bukan kejadian biasa," ujar Erdogan dikutip surat kabar Turki, Hurriyet, Kamis.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA