Saturday, 12 Muharram 1440 / 22 September 2018

Saturday, 12 Muharram 1440 / 22 September 2018

Trump Siap Tekan Cina dengan Hukuman Baru

Jumat 14 September 2018 12:53 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Bendera Cina-Amerika

Bendera Cina-Amerika

Foto: washingtonote
Pemerintah Cina pesimistis pertemuan kedua negara menghasilkan solusi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meragukan akan adanya solusi perang dagang dalam pembicaraannya dengan pejabat Cina nanti. Ia bahkan siap menekan ekonomi Cina dengan hukuman baru yang berat apabila Beijing tidak menawarkan konsesi.

Dalam akun media sosial Twitter miliknya, Trump memastikan dirinya tidak berusaha membuat kesepakatan. “Mereka berada di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan dengan kami. Pasar kami melonjak, mereka ambruk. Kami akan segera ambil miliaran dalam tarif (impor) dan membuat produk di rumah (AS),” tuturnya, dilansir Washington Post, Jumat (14/9).

Posting-an Twitter muncul setelah pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa Menteri Keuangan Steven Mnuchin telah menawarkan undangan resmi kepada pemimpin Cina untuk memulai kembali pembicaraan mengenai perdagangan. Tujuannya, untuk mengurangi pertempuran perdagangan antara dua negara ekonomi terbesar di dunia itu.

Unggahan Trump konsisten dengan sikap kerasnya ke Cina. Namun, unggahan tersebut bisa membuat para pimpinan Cina meragukan Trump akan bersedia merundingkan kesepakatan. Sebab, pembicaraan kedua negara sudah ‘terpecah’ beberapa kali.

Pada Rabu (12/9), para pejabat Gedung Putih tampak optimistis pada potensi pembicaraan baru. Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Larry Kudlow menjelaskan, ada beberapa informasi yang diterimanya bahwa Pemerintah Cina ingin melanjutkan pembicaraan.

Ia tidak memberi penjelasan arah diskusi tersebut, tapi memberikan sinyalir bahwa pertemuan tersebut adalah pertanda positif. "Saya selalu percaya, dalam banyak kasus, berdiskusi lebih baik berbicara dibandingkan kalau tidak. Jadi, saya anggap ini sebagai nilai tambah," ujar Kudlow.

Sementara itu, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Cina Geng Shuang mengatakan, pejabat telah menerima undangan dari Gedung Putih untuk melakukan diskusi. Kedua belah pihak tengah membuat detail pembicaraan. "Cina selalu menganggap, ekskalasi konflik perdagangan ini tidak diinginkan siapa pun," katanya dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (13/9).

Di tengah rencana pembicaraan pemerintahan kedua negara, keraguan akan adanya solusi terus muncul. Mantan wakil perdagangan AS Robert Holleyman menuturkan, tuntutan AS untuk perubahan mendasar dalam ekonomi Cina akan membuat pembicaraan sulit menemukan titik terang.

"Kedua negara jauh dari kata solusi. Kalaupun ada solusi, akan membutuhkan beberapa pilihan sulit, terutama untuk Cina," ujar Holleyman.

Tanggal pasti pertemuan kedua pemimpin negara ini belum dirilis. Kemungkinan, Trump dan Presiden Cina Xi Jinping akan bertemu di sela Sidang Majelis Umum PBB pada akhir bulan ini. Kemungkinan lain, keduanya bertemu pada November di KTT G-20 di Buenos Aires.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES