Rabu, 4 Zulhijjah 1439 / 15 Agustus 2018

Rabu, 4 Zulhijjah 1439 / 15 Agustus 2018

Dokter dan Psikolog AS Peringatkan Dampak Zero Tolerance

Kamis 21 Juni 2018 18:11 WIB

Rep: Farah Nabila Noersativah/ Red: Bilal Ramadhan

Para imigran yang ditangkap di pusat detensi di AS

Para imigran yang ditangkap di pusat detensi di AS

Foto: USA Today
Psikiater mengatakan, ketiadaan orang tua akan memengaruhi perkembangan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trum menyetujui kebijakan imigrasi zero tolerance, banyak dokter dan peneliti memperingatkan adanya bahaya psikologis yang akan terjadi pada anak-anak yang dipisahkan dari orang tua mereka. Sebab, kebijakan tersebut menghasilkan pemisahan sekitar 2.000 anak-anak migran dari orang tua mereka setelah beberapa pekan kebijakan itu dimunculkan.

Dilansir di Livescience, Presiden American Academy of Pediatrics (AAP) Dr Colleen Kraf, mengunjungi sebuah pusat pemisahan anak di Texas, di mana anak-anak kecil berusia 12 tahun ke bawah ditahan. "Saya diberitahu bahwa Anda tidak bisa menghibur atau menggendong anak yang menangis,” ujar Kraft.

Menurut studi, ketiadaan sentuhan fisik seperti pelukan, pemegangan tangan, dan kenyamanan dapat memengaruhi anak-anak. Menurut seorang asisten profesor di Departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health, Lori Evans, ketiadaan kepengasuhan terhadap anak dapat meningkatkan hormon stres pada anak.

"Banyak yang kami ketahui tentang ini dari anak-anak yang dibesarkan di panti asuhan," katanya.

Dia melanjutkan, jika anak-anak sangat muda dan dibiarkan tanpa sentuhan untuk sementara waktu, mereka memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Tingkat hormon stress, seperti kortisol, tetap lebih tinggi dari biasanya, bahkan setelah anak-anak dibawa kembali ke keluarga mereka.

“Hormon lain, seperti oksitosin dan vasopresin, yang sangat penting untuk ikatan emosional dan sosial. Hormon itu sering lebih rendah pada bayi yang tidak mengalami sentuhan fisik, seperti pelukan dari pengasuh,” ujar Evans.

Hal yang sama, dia mengatakan, mungkin berlaku untuk anak-anak yang lebih besar, meskipun tidak banyak penelitian yang berfokus pada kelompok usia ini sehubungan dengan kenyamanan fisik.

"Ketika Anda melihat anak-anak kecil, mereka selalu meminta pelukan. Mereka juga saling berpelukan. Dan mereka duduk di pangkuan," katanya.

Sementara itu, seorang psikiater anak yang juga merupakan direktur Divisi Keanekaragaman dan Kesehatan Ekuitas di American Psychiatric Association, Dr Ranna Parekh, mengatakan, sentuhan juga memberikan peran penting dalam hal ‘ikatan’. Ikatan itu akan terjalin antara anak dan pengasuh pada awal kehidupan, dan kemudian tumbuh.

“Ikatan itu juga akan berimbas untuk memiliki hubungan normal dan baik dengan orang lain," kata Parekh.

Menurut dia, cara yang digunakan dalam kebijakan zero tolerance pada pemrintahan Trump ini tidak hanya merobek kenyamanan fisik anak-anak ini dari lengan orang tua mereka. Parekh mengatakan, hal tersebut juga membuat mereka merasa sendirian di dunia.

"Ini adalah anak-anak yang tidak hanya mengalami perpisahan traumatis, tetapi kemudian mereka tidak memiliki akses ke sesuatu yang akan menghilangkan stres itu, yang menyentuh dari pengasuh," kata Parekh.

Dia tak menampik pengasuh di fasilitas penahanan berpengalaman dan mengetahui cara memberikan sentuhan jauh lebih baik daripada tidak ada pengasuh sama sekali. Meskipun demikian, menurut laporan berita, para pengasuh itu dilarang menghibur anak-anak yang ditahan.

Dokter dan psikolog pun setuju bahwa situasi traumatis ini dapat memiliki efek psikologis jangka panjang. "Kebanyakan gangguan mental, emosi, dan perilaku berakar pada masa kanak-kanak dan remaja dan trauma masa kecil, telah muncul sebagai faktor risiko yang kuat untuk perilaku bunuh diri nanti,” demikian pernyataan yang dirilis oleh National Academy of Sciences, Engineering, dan Medicine.

Parekh menambahkan, paling tidak, banyak dari mereka berisiko tinggi mengalami gangguan stres akut. “Hal itu merupakan sesuatu yang terjadi dalam waktu satu bulan dan pada dasarnya dapat menjadi prekursor potensial untuk PTSD,” kata Parekh.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA