Friday, 7 Zulqaidah 1439 / 20 July 2018

Friday, 7 Zulqaidah 1439 / 20 July 2018

Trump tak Mau AS Jadi Kamp Migran

Selasa 19 June 2018 09:34 WIB

Red: Indira Rezkisari

Anak-anak imigran bermain di luar kantor job Corps yang kini menjadi kediaman mereka, Senin (18/6), di Homestead Florida. Tidak diketahui apakah anak-anak yang melintas perbatasan tidak ditemani dewasa atau dipisahkan dari anggota keluarganya.

Anak-anak imigran bermain di luar kantor job Corps yang kini menjadi kediaman mereka, Senin (18/6), di Homestead Florida. Tidak diketahui apakah anak-anak yang melintas perbatasan tidak ditemani dewasa atau dipisahkan dari anggota keluarganya.

Foto: AP
Sebanyak 2.000 anak dipisahkan dari orang tuanya yang mencoba menyeberang ilegal.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Senin (18/6) bahwa dia tidak akan membiarkan AS menjadi "kamp migran". Saat ini pemerintahannya menghadapi rentetan kritik karena memisahkan anak-anak imigran dari orang tua mereka di perbatasan AS-Meksiko.

Partai Demokrat dan beberapa orang di Partai Republik sendiri telah mengecam pemerintah karena memisahkan hampir 2.000 anak-anak dari orang tua mereka di perbatasan antara pertengahan April dan akhir Mei. Para profesional medis mengatakan, praktik itu dapat menyebabkan trauma yang berkepanjangan pada anak-anak.

Pemisahan keluarga merupakan hasil dari kebijakan "toleransi nol" pemerintah yang menahan semua orang dewasa yang tertangkap berusaha memasuki AS secara ilegal, termasuk mereka yang mencari suaka. Sementara orang tua ditahan di penjara, anak-anak mereka dikirim ke fasilitas penahanan terpisah. Rekaman video yang dirilis oleh pemerintah menunjukkan anak-anak pendatang yang ditahan di kandang kawat, duduk di lantai beton.

Trump, yang telah membuat pendirian keras pada imigrasi sebagai tujuan utama dari kepresidenannya, menanggapi kritik tajam pada Senin. "AS tidak akan menjadi kamp migran, dan itu tidak akan menjadi fasilitas penampungan pengungsi. Tidak akan. Anda melihat apa yang terjadi di Eropa, Anda melihat apa yang terjadi di tempat lain, kita tidak dapat membiarkan itu terjadi di AS, tidak akan saya biarkan," kata Trump. Dia berbicara di Gedung Putih saat mengumumkan kebijakan yang tidak terkait.

Trump telah berusaha menggunakan kemarahan yang meluas atas pemisahan keluarga untuk mendorong melalui prioritas imigrasi lainnya yang telah terhenti di Kongres. Seperti pendanaan untuk pembangunan pagar yang telah lama dijanjikan di sepanjang perbatasan Meksiko.

Dia bersikeras menyalahkan Partai Demokrat atas kebuntuan tersebut, meskipun rekan-rekan Republikannya mengendalikan kedua kamar di Kongres. Demokrat menuduh presiden menggunakan anak-anak sebagai sandera dalam perselisihan politik atas imigrasi.

"Ini dilakukan oleh presiden, bukan Demokrat. Dia dapat memperbaikinya besok jika dia mau, dan jika dia tidak mau, dia harus mengakui fakta bahwa dia melakukannya," kata Pemimpin Demokrat Senat Chuck Schumer dalam pernyataan yang telah disiapkan.

Sebelumnya, Trump mengatakan di "Twitter" bahwa orang-orang harus waspada terhadap apa yang disebutnya perubahan budaya yang disebabkan oleh para pendatang di Eropa. Dia menyebut imigrasi menyebabkan ketidakstabilan politik di Jerman dan mengatakan secara tidak akurat bahwa kejahatan di Jerman meningkat. "Kesalahan besar yang dilakukan di seluruh Eropa dalam membiarkan jutaan orang yang telah begitu kuat dan hebat mengubah budaya mereka!" cicitnya.

Jaksa Agung Jeff Sessions membela cara anak-anak migran diperlakukan. "Mereka tidak dipenjara, tentu saja. Mereka dirawat," katanya di konvensi Asosiasi Sheriff Nasional di New Orleans, Senin.

Para pejabat pemerintahan Trump mengatakan kebijakan toleransi nol, yang tidak dilakukan oleh dua pemerintahan sebelumnya, diperlukan untuk mengamankan perbatasan dan menghalangi imigrasi ilegal. Tetapi mereka menghadapi kritik yang semakin meningkat dari sekutu Republik mereka.

"Mengapa kita bahkan berpikir bahwa ini adalah alat yang diperlukan untuk mempertahankan perbatasan kita, ini gila," ujar Perwakilan Republik Will Hurd, yang mewakili Distrik Texas di sepanjang perbatasan kepada "National Public Radio."

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan pengungsi dan pendatang anak-anak tidak boleh trauma dengan cara dipisahkan dari orang tua mereka. Di Jenewa, pejabat tinggi HAM PBB menyerukan kepada pemerintahan Trump untuk menghentikan kebijakan yang "tidak bermartabat" yang memisahkan anak-anak dari orang tua pendatang secara paksa.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA